3

It’s raining here now….

…and somehow I feel happy about it. There is something about rain, particularly the light one, that makes me feel relax and, perhaps, romantic. I like to picture myself sitting in a room, listening to a jazz music and have a cup of great coffee, while enjoying rain from window. Or even better, to picture myself sitting in a cafe, waiting for someone that I do not know at all, but perhaps, will have a great connection with me in the future *cough*.

I know it is silly, but who cares? I love it, and I am enjoying having a ‘me’ time while it’s raining. Just like what I will do shortly: have a good cup of coffee, listening to a good music and enjoying the sense of rain, plus feeling romantic. Sounds like a good plan for me! ­čśë

Advertisements
2

What a very short holiday…

….that’s exactly what I feel right now. Tomorrow morning I will be flying to Jakarta and back to the office to start working. I will only spend like two days at Surabaya with my family and (of course) it’s not enough. But choice has been made, and I know I have to deal with it. I will meet them again soon in September, hopefully more days and more quality time for us.

It’s quite sad that my youngest sister is now currently unwell. She got fever (duh!) and has to take a bed rest at home. I hope she’ll get well soon. Too bad we can’t spend some time this evening, but having her be healthy again is the important thing. It’s just unfortunate for us to have this incident while I am only at Surabaya for a very short period ­čśŽ

Oh well, life is life. At least I can spend some time with my family and that’s better than nothing ­čśŤ

0

Gampangnya merasa iri!

Awalnya sederhana saja. Teman kantor saya, sebut saja X (seperti penamaan tersangka di koran, hihi :P) kebetulan bercerita bagaimana ia diberi sebuah tas travelling oleh big boss kami sepulang dari acara di luar Jakarta. Alasannya karena si X itu sering berpergian (memang benar sih), sehingga tas itu akan lebih berguna untuknya daripada big boss saya. Dengan tujuan bercanda, secara tidak langsung si X menyampaikan betapa beruntungnya dia untuk memiliki pekerjaan yang membuatnya banyak travelling, dan ternyata, juga diperhatikan big boss.

Seperti bisa diduga, hanya butuh sepersekian menit untuk saya tiba-tiba merasa iri dan cemburu. Saya kemudian membandingkan keadaan si X dengan keadaan saya dan saya melihat perbedaan-perbedaan yang, menurut saya tentunya, tidak menguntungkan bagi saya. Saya merasa saya seharusnya bisa mendapatkan apa yang sama, bahkan lebih dari si X. Tak ayal saya mulai mengeluh dan berkeluh kesah dalam hati.

Lalu saya terkesiap. Menyadari apa yang baru saya lakukan, tidak bisa tidak, saya menggelengkan kepala keras-keras, lebih karena malu. Betapa mudahnya saya merasa iri atas keberhasilan orang lain tanpa mengingat apa yang telah saya miliki dan raih selama ini! Bukannya terus bersyukur dengan apa yang saya miliki, saya malah ingin sesuatu yang lain, yang bahkan saya sendiri belum tentu butuh. Padahal jika saya memperluas sedikit saja pandangan saya, tidak hanya ke teman-teman yang lebih beruntung dari saya, namun juga ke teman-teman yang mungkin tidak seberuntung saya, tentu rasa iri itu tidak akan sempat berkembang sedikit pun, karena begitu banyak yang bisa kita syukuri.

Tentu, tidak iri akan keberhasilan orang lain bukan berarti kita pasrah dengan apa yang kita miliki sekarang. Kita semua memiliki cita-cita yang ingin kita raih, dan kewajiban kita untuk bekerja sebaik mungkin dalam mencapainya. Yang perlu diingat, jangan sampai cita-cita kita didikte oleh kecemburuan kita terhadap apa yang orang lain miliki, namun memang berdasar apa yang kita butuhkan atau impikan di masa yang akan datang. Iri sejatinya adalah hal yang wajar terjadi karena kita manusia. Bagaimana kita mengelolanya, itulah yang membedakan kita dengan yang lain. Semoga saya bisa tetap mengelolanya dengan sikap positif yah, aminnn ­čÖé

2

Ketika harus memilih

Saya baru keluar dari kantor di suatu malam ketika angin berhembus kencang dan membuat saya terpaksa mengeratkan jaket saya kuat-kuat sembari mencari ojek untuk pulang ke kos. Terbersit pilihan di benak saya, apakah saya harus menggunakan taksi karena kemungkinan akan hujan? Atau tetapkah saya menggunakan ojek karena toh jarak ke kos saya tidak jauh. Pada akhirnya, seperti mungkin bisa Anda tebak, saya justru pulang jalan kaki karena tidak menemukan ojek ataupun taksi akibat terlalu banyak pertimbangan.

Kejadian sederhana itu sebenarnya menunjukkan pentingnya mengambil keputusan yang tepat di waktu yang tepat pula. Kalau saja saya segera mengambil keputusan untuk naik ojek katakanlah, 5 menit lebih awal, mungkin saya tidak perlu pulang jalan kaki. Hidup menyediakan pilihan di depan mata kita, dan tinggal bagaimana kita menentukan pilihan mana yang akan kita ambil, tentunya dengan timing yang tepat.

Namun kemudian terbersit pertanyaan, bagaimana kita tahu bahwa keputusan yang kita ambil atau pilih adalah yang terbaik? Bagaimana kita yakin bahwa apa yang tidak kita pilih justru adalah pilihan yang justru lebih baik dari apa yang kita miliki sekarang? Buat saya saat ini, jawabannya sederhana saja: kita tidak akan pernah tahu, sampai kita memilihnya. Apapun yang saya pilih, saya harus sadar apa akibat yang akan saya terima, baik atau buruk. Setiap pilihan adalah resiko, dan setiap kali Anda memilih, Anda harus siap dengan resiko pilihan tersebut.

Tidak mudah memang untuk melakukannya. Terbukti, ketika terbentang satu,dua tawaran menggiurkan di depan saya, dan kemudian saya memilih untuk melepaskannya, ada rasa penasaran berlebih dan sesal yang sempat merasuk. Tapi hey, bukankah saya sendiri yang mengatakan bahwa semua pilihan adalah tanggung jawab saya pribadi dan saya sudah harus sadar akan resikonya? Dengan berpikir demikian, sedikit galau di hati pun berkurang, dan saya bisa lebih ikhlas menerimanya.

Ketika harus memilih, tidak selalu mudah, tapi dengan keyakinan dan keikhlasan, insya Allah akan berbuah manis untuk kita. Amin ­čÖé

0

Minggu malam jam 9…

…dan saya sudah berbaring manis di kasur, siap memejamkan mata untuk bermain-main dengan imaji saya sebelum pagi datang dan membangunkan saya keesokan hari. Televisi di depan saya masih menyiarkan acara mengenai makanan, sesuatu yang menjadi favorit saya sejak memakai kawat (gimana lagi, nggak bisa makan yang enak2, jadi nikmati makanan dari TV sajalah.. :P). Terlintas sedikit kekhawatiran di benak saya mengenai deadline report esok hari,tapi saya coba enyahkan pikiran ala ‘workaholic’ dan meyakinkan diri bahwa besok masih ada waktu untuk mengerjakan semuanya.

Mendapat ‘me’ time lagi di waktu seperti ini, apalagi menjelang tidur, membuat pikiran saya berkelana. Iseng-iseng saya melihat foto-foto lama saya di ponsel ketika berbadan bulat dan bekerja di perusahaan sebelumnya. Begitu banyak kenangan, baik menyenangkan atau menyedihkan. Saya menjadi sadar bahwa saya sudah melangkah cukup jauh dari saya yang dulu, saya yang masih naif, tidak dewasa dan kurang percaya diri.

Jangan salah, sampai sekarang pun saya masih berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Saya masih susah mengendalikan emosi, meski sudah lebih terkontrol dibandingkan dulu. Saya memiliki kepercayaan diri jauh lebih besar dari saat saya bekerja di perusahaan lama saya, terutama ketika berhadapan dengan orang lain. Sedikit banyak saya akui ini berkat lingkungan kerja saya yang baru, dengan orang-orang baru yang terus menerus memaksa saya keluar dari zona nyaman dan memperbaiki apa yang bisa diperbaiki dari diri saya. Meski terkadang membuat saya lelah (dan mungkin stress sedikit.. :P), toh saya bersyukur dengan apa yang saya miliki sekarang. Saya yakin saya berada di jalur yang tepat, setidaknya untuk sekarang ­čÖé

P.S.
Oops… Sudah jam 9.30 sekarang, dan saya berjanji ke diri saya untuk bangun pagi besok dan mencoba jalan pagi lagi (let’s see…). So, have a good rest everyone! ­čśë

3

Random post: Menjelang tidur…

Jadi mulanya hanya karena saya disarankan oleh teman saya untuk paling tidak menulis satu lembar per hari agar kebiasaan menulis itu tidak hilang. Tanpa menanyakan lebih jauh apakah satu lembar itu mengacu pada satu lembar A4, A3, atau satu lembar kertas super gede seukuran spanduk, saya pun segera menyalakan komputer saya dengan mata kriyep-kriyep alias merem melek karena ngantuk. Dan inilah dia, post random yang dibuat sekedar melatih jari-jari saya menjadi penghantar ide yang baik dari otak (kau beruntung otak, karena jari-jari ini tidak bisa membantah maumu -_-).

Jujur, saya tidak tahu apa yang harus saya tulis di sini, namun mata saya tertumbuk pada empat boneka yang ada di ujung tempat tidur saya. Saya memang suka boneka, meski seringkali fungsi mereka adalah untuk saya tiduri (entah kenapa terdengar sangat aneh…) dan menjadi sansak ketika saya sedang kesal dengan sesuatu atau seseorang. Melihat empat boneka yang duduk adem ayem di pojokan, mendadak saya berpikir: bagaimana jika mereka bisa berbicara? Apakah mereka akan membicarakan saya tiap malam? (idih, ge-er banget!). Setidaknya beginilah bayangan saya akan diskusi malam mereka:

Ireng (boneka beruang hitam) : Euy, guys…. (ceritanya yang paling gaul).
Putih (boneka beruang putih) : Apaan? Ngantuk nih!
Chiki (boneka ayam Chickenstrip) : KUKURUYUKKK! Eh? Belum pagi yah?
Bluwi (boneka pinguin kurus semi guling) : Grrrooookkkk……

Ireng : Alaahh…gaya kalian semua! Biasanya juga ga tidur dan milih nggosip juga!
Putih : Eh, tergantung mood kaliii… Lagi pengen bobo nih *siapin posisi*
Chiki : Lagian semangat amat sih Reng..aku kira dah fajar nih! *melotot*
Bluwi : ZZZZZZ…………..
Ireng : Itu liat majikan kita! Lagi asyik ngetik di laptopnya malem-malem gini!
Putih : So what gitu loh?
Ireng : Yah, biasanya mah jam segini dia dah teler aja kan.. Apalagi tadi sempet murus!
Putih : Mungkin aja dia ada PR Reng.
Ireng : Emangnya kuliah sampe ada PR segala? *jitak si Putih*
Putih : Oh, iya ya… *meringis*
Ireng : Lagian ngetik kok sambil merek melem gitu. Emang bener tuh ketikannya?
Chiki : Biarin aja napa Reng, suka-suka dia lah. Kali aja dia emang lagi latihan ngetik dengan mata terpejam. Lumayan kan bisa masuk MURI. Muncul di TV deh, hehehe…
Putih : Jiah, niat amat sampe mau muncul di MURI. Mending sekalian yang ekstrim, ngetik sambil merem, ngupil dan sikat gigi dan bisa bikin cerita 1000 kata. Baru deh masuk MURI!
Ireng, Putih, Chiki : hahahahahahahahaa….
Bluwi : zzzzzzzzzzzzzzzzzzzz……….
Ireng : Kayanya sih dia lagi pengen rajin nulis, biar terasah lagi bakat nulisnya.
Putih : Emang punya bakat? *JLEB*
*NIKEN: Bangun dari posisi wuenak dan langsung memberikan jeweran cinta*
Putih : WADAWWW!! Ampunnnn DJ!
Ireng, Chiki : Wkwkwkwkwkwk….
Bluwi : krrr….groookkkkk….
Ireng : Yah kita dukunglah pemilik kita supaya rajin menulis..meski tulisannya kadang nilainya nol *JLEB*
*NIKEN: Bangun lagi dan melayangkan tinju cinta ke Ireng*
Ireng : ADUUUUUUUHHH… AMPUN DJ!
Putih, Chiki : hehehehhehee……

Tiba-tiba,

Bluwi : HADUH, BERISIK AJA KALIAN SEMUA. AYO TIDUR! SUDAH JAM SETENGAH 12 NIH!
Ireng, Putih, Chiki, Niken : *melotot*
Niken : Heh, kamu kan cuma boneka…
Bluwi : BERISIK! IKUT TIDUR JUGA GA SITU??
Niken : ……..er…..i..iya…
Bluwi : KALIAN TRIO KWEK-KWEK JUGA TIDUR KAN??
Ireng, Putih, Chiki : ….i..i..iya….
Bluwi : BAGUS! AYO TIDUR SEKARANG!!
Niken, Ireng, Putih, Chiki : Siapppppp…. ! ZZZZZZZZZZZZZZZz…………..

-tamat-

Gimana? Cukup nyampah kan? *tutup muka ama bantal*

Met istirahat semua!

1

A rainy Sunday :)

Setelah kemarin pergi seharian, saya memang merencanakan untuk tinggal di kos saja hari ini. Selain capek, kebetulan hari ini termasuk tanggal tua untuk saya, dan mungkin jutaan karyawan lainnya di seluruh Indonesia (kecuali mungkin buat mereka yang suka ngutang dulu dan membayar minggu depan pada saat gajian :P). Meski awalnya bingung dengan apa yang akan saya lakukan, toh saya tetap bersemangat sejak bangun dari kasur.

Eh, kok ya pas banget, hujan turun hampir sepanjang hari. Mungkin tidak terus menerus, tapi jelas di pagi hari, berhenti sejenak di siang hari, dan berlanjut di sore hari. Suasana yang dingin, lembab dan menenangkan membuat mood saya menjadi, katakanlah, cozy. Saya merasa nyaman ngendon di kamar seharian penuh dan beraktivitas sesuai dengan apa yang saya inginkan. Mulai dari membersihkan laci yang sepertinya sudah setahun tidak saya cek, menyapu kamar, nonton DVD, dan sedikit browsing ke beberapa situs menarik.

Biasanya hujan membuat romantisme dalam diri saya, dan itu juga yang terjadi pada diri saya sore tadi. Ketika romantisme datang, biasanya saya akan menulis, sesederhana apapun itu, sesedikit apapun itu. Ada sesuatu yang dibawa hujan yang selalu berhasil mempengaruhi saya, terutama mood saya untuk menulis. Sayang, saya tidak langsung menuangkannya dalam tulisan tadi, hanya karena saya asyik menonton DVD dan browsing. Mumpung saya belum ngantuk, mungkin saya akan menuliskan satu, dua kalimat tentang hujan pada hari Minggu ini. Semoga tidak terlalu nyampah di blog ini ­čśŤ

——–

Hujan lagi. Aku menengadah ke langit yang kini gelap gulita dan dipenuhi titik-titik air yang menari seakan sedang membawakan tarian ritual. Entah mereka gembira atau justru sedih meninggalkan saudara-saudara mereka yang masih tersangkut di awan di atas sana. Yang jelas, aku gembira menyambut mereka yang membasahi bumi, terutama tanah kering kerontang yang berusaha menghidupi rerumputan, dan pohon-pohon kurus berdaun kuning. Lucu juga bagaimana bau tanah yang tersiram air hujan selalu menenangkan dan menyegarkan pikiranku.

Dulu aku bukan benar-benar fans dari hujan. Aku jadi menyukai hujan sejak sore itu, sore di mana mendadak aku bisa berkompromi dengan hujan. Aku ingat, waktu itu sore hari di gazebo kampus. Aku, kamu, dan dua botol air mineral yang kita bawa dari kantin belakang. Aku ingat aku menggerutu karena tugasku sempat terciprat air hujan yang begitu kencang menghantam bumi. Sedikit panik, aku menjejalkan semua kertas yang ada di atas meja ke dalam tas. Kamu cuma tertawa melihatku yang panik. Meski aku mengingatkanmu untuk mulai menyimpan buku-buku milikmu di tas, kamu cuma tersenyum simpul dan menumpuk semua buku di tengah meja supaya sedikit aman dari serangan cipratan hujan.

“Kapan hujannya selesai yah?”, gumamku tak sabar. Aku ingat kamu menatapku sambil membelalak tak percaya.

“Kamu nggak suka hujan?”, tanyamu heran seperti seorang anak┬áTK┬áyang heran pada temannya yang tidak suka coklat.

“Nggak terlalu. Selain basah, hujan juga membuat udara dingin. Dan aku tidak tahan dingin kan?”, balasku.

“Itu karena kamu cuma melihat efek merugikan dari hujan. Apa kamu pernah coba sejenak menikmati hujan?”

“Maksudnya? Kamu nyuruh aku hujan-hujanan gitu?”, tanyaku tak mengerti.┬áKamu tertawa terbahak.

“Ya bukanlah! Kurang kerjaan banget hujan-hujanan. Emangnya anak-anak?”, balasmu geli. Aku tersenyum manyun.

“Coba sekarang pejamkan matamu.”, ujarmu setelah berhenti tertawa. Aku mengernyitkan kening.

“Mejamin mata? Buat apa?”, ujarku sedikit malas.

“Halahh…coba aja kenapa sih?”, paksamu sambil menatapku dengan mata berbinar. Kurang ajar. Tak tahukah kamu kalau hatiku barusan berhenti berdetak karena tatapanmu itu?

“Hmmm….”, meski enggan, aku pun menutup mataku. Bisa kurasakan┬ákamu tersenyum di depanku, meski yang kulihat sekarang hanyalah kegelapan. Mendadak aku mendengar bisikanmu, tepat di depan mukaku.

“Sekarang coba kamu tarik napas dalam-dalam, dan biarkan hujan melewatimu. Biarkan bau tanah yang tersiram hujan, bau rerumputan yang basah, bau bunga-bunga yang kembali segar masuk ke dalam dirimu. Kamu bisa rasakan itu?”

Sedikit geli mendengar ucapanmu yang mendadak puitis itu, aku mencoba mengikuti saranmu. Aku tarik napas dalam-dalam, mencoba melakukan apa yang kamu minta; membiarkan bau tanah, bau rerumputan dan bau bunga masuk ke diriku. Tak butuh waktu lama sebelum aku mulai meragukan kewarasanku, karena jujur, aku seolah bisa merasakan semua hal itu. Bau tanah basah yang pertama mempengaruhi perasaanku, membuatku mendadak merasa sangat rileks. Aku seolah merasa menjadi bagian tanah kering yang segar kembali karena siraman air hujan. Perlahan, bau rumput dan bunga bercampur di hidungku, paru-paruku dan kemudian otakku. Aku seperti termabuk oleh kenyamanan dan kesejukan yang ditawarkan oleh hujan, yang anehnya, baru kusadari sekarang.

Aku membuka mataku. Kamu pun tersenyum puas.

“Jadi, sekarang kamu cukup suka hujan kan?”, tanyamu puas.

Suara guntur mengagetkanku dari lamunan akan masa lalu. Aku menatap kembali langit yang kini sedikit cerah. Tersenyum, aku kembali mengingat pertanyaan itu, dan juga sorot matamu yang bersinar penuh kemenangan. Lain kali kita bertemu, aku akan menunjuk mukamu dan menyalahkanmu, Tuan.

——————

Fiuh, hasil tak maksimal dalam waktu singkat. But I kinda like it. Hope you like it too ­čÖé