Berpisah lagi dengan Ramadhan…

…terasa amat berat buat saya sekarang. Saya merasa belum ada perubahan signifikan dalam bulan ini. Mungkin dalam beberapa amalan saya sudah mengupayakan lebih baik dari sebelumnya, tapi sayangnya belum untuk seluruh aspek. Salah satu yang saya sesalkan adalah belum sempatnya saya melakukan i’tikaf di malam-malam terakhir bulan suci ini. Entah karena pengaruh lingkungan, atau murni dari diri saya sendiri, mendadak saya kehilangan gairah untuk melakukan i’tikaf di minggu terakhir Ramadhan ini, dan malah asyik bermain dengan pikiran saya sendiri. Istilahnya “galau mode ON”, pemikiran nggak penting yang hanya berpusat ke diri sendiri *hiks*.

Tak heran pagi ini saya merasa sedih sekali ketika sahur dan bertemu dengan teman-teman kos yang baru pulang i’tikaf. Sudah tinggal beberapa malam sebelum Lebaran datang, dan sudah sepantasnya kita berlomba-lomba untuk mengejar pahala dan ampunan sebelum kesempatan itu hilang. Saya merasa sangat malu, namun juga merasa sangat pedih dan marah. Marah pada diri saya yang tidak mampu mengontrol apa yang saya lakukan, dan tidak menghayati Ramadhan sebagaimana yang saya inginkan di awal.

Mungkin salah satu yang juga menyebabkan saya tidak bisa sepenuhnya mengamalkan Ramadhan adalah kebiasaan saya selama ini, yang cenderung terlalu santai dan hanya melakukan segalanya sebatas “kewajiban”. Saya ingat ucapan Ustadz Yusuf Mansyur di salah satu acara pagi hari di televisi mengenai persiapan Ramadhan. Pada intinya, 11 bulan yang kita lalui sebelum Ramadhan sebenarnya adalah persiapan dalam menghadapi Ramadhan sebaik-baiknya. Sebagai contoh, jika di hari biasa kita jarang atau tidak pernah melakukan shalat malam, maka jangan langsung berharap kita akan langsung “tokcer” dalam melakukan i’tikaf semalaman hingga Subuh menjelang. Pernyataan sederhana yang sebenarnya sangat masuk akal dan sedikit banyak membuat saya berpikir.

Kini Ramadhan sudah akan berakhir, dan kesebelas bulan yang lain menunggu di depan. Saatnya kita (terutama diri saya sendiri) untuk membuktikan bahwa ada perubahan berarti dalam diri saya setelah Ramadhan berlalu, tidak hanya melulu mengeluh tentang kealpaan saya di bulan suci tersebut dan tidak berusaha apa-apa setelahnya. Semoga kita bisa menjadi insan yang lebih baik dan diampuni segala dosanya, amin ya rabbal alamin….

Advertisements

One thought on “Berpisah lagi dengan Ramadhan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s