Telepon iseng atau bukan telepon iseng?

Post ini didasari kekesalan saya pagi hari ini terhadap panggilan telepon yang saya terima. Bagaimana tidak, ketika saya sedang tengah asyik bermimpi (meski saya pun lupa apa mimpinya), tiba-tiba saja saya mendapatkan panggilan telepon pada jam 4 pagi. Bayangkan, jam 4 pagi! Itu adalah waktu di mana semua orang seharusnya masih bercengkrama dengan kasur mereka masing-masing (kecuali tentunya mereka yang bekerja pada waktu itu, seperti para sekuriti atau karyawan yang bekerja dengan sistem shift dan mendapat giliran shift malam). Maka wajar jika panggilan itu tak saya indahkan, dan saya pun meneruskan kembali tidur saya.

Namun yang namanya kesabaran toh ada juga batasnya. Setelah empat kali mendengar lagu “Elle Me Dit” mengalun di samping kepala saya, dengan menggerutu saya pun mengambil BB dan menjawab telepon itu. Ternyata seorang wanita yang mencari seseorang bernama Mira. Bagus. Sudah nelpon pagi buta, salah sambung pula! Agak ketus, saya jawab bahwa itu salah sambung. Anda tahu apa pertanyaan selanjutnya yang dilontarkan wanita itu ke saya? “Kalau begitu ini siapa ya?”

Sebut saya bodoh atau apa, tapi setahu saya jika Anda membuat panggilan telepon, berarti Anda ingin berbicara dengan orang yang Anda cari. Jika ternyata Anda tidak menemukan orang itu di ujung telepon, berarti kemungkinannya sederhana: Anda menekan nomor yang salah, atau nomor telepon itu sudah tidak dipakai lagi oleh orang yang bersangkutan. Saya yakin 90% dari kasus yang terjadi adalah Anda menekan nomor yang salah. Logikanya, Anda akan meminta maaf ke orang yang Anda salah hubungi, mencoba mencari tahu nomor yang benar (entah cek lagi catatan Anda atau menanyakan ke orang lain), dan coba lagi hubungi nomor telepon yang ada sampai Anda menemukan orang yang Anda cari. Setidaknya, itu yang saya bayangkan harusnya terjadi.

Kembali ke kasus telepon aneh di atas, otomatis kekesalan saya memuncak mendengar pertanyaan itu. Saya balas saja, “Yang jelas saya bukan orang yang Anda cari, jadi Anda salah sambung!”. Eh, si wanita itu terus saja menanyakan pertanyaan yang sama dan berusaha mengetahui nama saya. Malas berurusan lebih jauh dengan orang itu, saya pun menutup telepon itu. Tak sampai 2 menit sampai lagu “Elle Me Dit” mengalun kembali. Si penelepon rupanya belum jera!!

Untungnya, batere BB saya habis dan akibatnya BB saya mati mendadak. Mungkin itu bukan perlakukan terbaik yang bisa diterima sebuah BB (baterenya memang sudah soak dan akan bertambah soak…), tapi setidaknya saya bebas dari gangguan telepon iseng itu. Saya mulai mengira-ngira apa tujuan dari telepon iseng itu. Atau justru bukan iseng?

1. Si penelepon adalah orang kesepian yang ga punya temen dan mencoba-coba nelpon orang yang ga dia kenal supaya ada teman ngobrol >> iseng
2. Si penelepon adalah bagian dari sindikat penipuan yang membutuhkan nama supaya ke depannya mereka bisa mengirimkan sms tipuan menggunakan nama saya >> jelas bukan iseng!!
3. Si penelepon adalah agen rahasia intel yang mengecek apakah saya termasuk buron >> kalo ini saya yang iseng mikirnya 😛
4. Si penelepon adalah perwakilan perusahaan untuk mengetes bagaimana saya mengontrol emosi saya sebagai bagian dari assessment tahunan >> sungguh, ini lebih ngayal dan iseng lagi idenya…. 😛

Yang positif dari kasus (halah!) telepon ini adalah, saya jadi terpacu untuk menulis blog. Setelah vakum sebulan penuh karena business travelling dan banyaknya pendingan pekerjaan, saya sempat-sempatkan untuk posting di pagi hari, untuk menyampaikan apa yang saya rasakan, dan juga mengasah lagi tulisan saya. Tentu, saya tidak mengharap mendapatkan telepon macam itu lagi. Cukup kali ini saja 😛

Advertisements

4 thoughts on “Telepon iseng atau bukan telepon iseng?

  1. Bagaimana kalo itu adalah telepon dari seseorang yang sangat kaya, dan sedang dalam keadaan sekarat menuju kematian, tetapi tidak tau kepada siapa dia akan mewariskan semua hartanya. Kemudian dia pun melakukan random call, dan orang yang mendapat telpon darinya akan mendapatkan warisab semua hartanya, asalkan orang tsb mau memberi tau namanya… nah.. #korbanfilm

    U’ve just missed a million dollar mbak.. hahaha..

    • Hahahaa…. itu ide brilian yang bisa membuat saya menyesal menolak telepon di pagi hari tersebut 😛

      Mungkin saya akan berpikir dua kali sebelum menutup telepon jika lain kali saya mengalami hal yang sama :))

  2. Saya juga pernah dapat telepon seperti itu mbak, dan motifnya jelas kayanya kasus 1&2 (iya, saya dapat 2 macam) untuk kasus 1, ngotot bahwa ini orang yang dia tuju, akhirnya saya ngamuk (saya ditelpon 6 kali tengah malam) & melontar ‘curse word’, ujung sana kayanya bingung dan bilang gak usah sok nginggris, tapi uda terlanjur sebel saya merepet dan akhirnya telpon ditutup. Ha!

    Smtr kasus 2, siangnya saya ditelpon oleh orang yang mengaku2 bahwa saya memenangkan hadiah, konyolnya si ‘operator’ memakai logat daerah yg cukup medok, jadi saya bilang saja: ‘Mas, lain kali kalau mau nipu yang pinter dikit ya, minimal belajar dulu bahasa Indonesia yang baik dan benar’. Klik. Telepon langsung dimatikan dari ujung sana 😀

    • Hahahaha…senang ada teman “senasib” untuk kasus telepon iseng ini! Sebenarnya saya juga pernah dapat kasus ke-2 lho, dengan penelepon yang juga medok. Saya ladeni saja dengan melama-lamakan telepon sampai dia nggak sabar dan menutup juga telepon dari seberang 😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s