Gampangnya merasa iri!

Awalnya sederhana saja. Teman kantor saya, sebut saja X (seperti penamaan tersangka di koran, hihi :P) kebetulan bercerita bagaimana ia diberi sebuah tas travelling oleh big boss kami sepulang dari acara di luar Jakarta. Alasannya karena si X itu sering berpergian (memang benar sih), sehingga tas itu akan lebih berguna untuknya daripada big boss saya. Dengan tujuan bercanda, secara tidak langsung si X menyampaikan betapa beruntungnya dia untuk memiliki pekerjaan yang membuatnya banyak travelling, dan ternyata, juga diperhatikan big boss.

Seperti bisa diduga, hanya butuh sepersekian menit untuk saya tiba-tiba merasa iri dan cemburu. Saya kemudian membandingkan keadaan si X dengan keadaan saya dan saya melihat perbedaan-perbedaan yang, menurut saya tentunya, tidak menguntungkan bagi saya. Saya merasa saya seharusnya bisa mendapatkan apa yang sama, bahkan lebih dari si X. Tak ayal saya mulai mengeluh dan berkeluh kesah dalam hati.

Lalu saya terkesiap. Menyadari apa yang baru saya lakukan, tidak bisa tidak, saya menggelengkan kepala keras-keras, lebih karena malu. Betapa mudahnya saya merasa iri atas keberhasilan orang lain tanpa mengingat apa yang telah saya miliki dan raih selama ini! Bukannya terus bersyukur dengan apa yang saya miliki, saya malah ingin sesuatu yang lain, yang bahkan saya sendiri belum tentu butuh. Padahal jika saya memperluas sedikit saja pandangan saya, tidak hanya ke teman-teman yang lebih beruntung dari saya, namun juga ke teman-teman yang mungkin tidak seberuntung saya, tentu rasa iri itu tidak akan sempat berkembang sedikit pun, karena begitu banyak yang bisa kita syukuri.

Tentu, tidak iri akan keberhasilan orang lain bukan berarti kita pasrah dengan apa yang kita miliki sekarang. Kita semua memiliki cita-cita yang ingin kita raih, dan kewajiban kita untuk bekerja sebaik mungkin dalam mencapainya. Yang perlu diingat, jangan sampai cita-cita kita didikte oleh kecemburuan kita terhadap apa yang orang lain miliki, namun memang berdasar apa yang kita butuhkan atau impikan di masa yang akan datang. Iri sejatinya adalah hal yang wajar terjadi karena kita manusia. Bagaimana kita mengelolanya, itulah yang membedakan kita dengan yang lain. Semoga saya bisa tetap mengelolanya dengan sikap positif yah, aminnn 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s