A rainy Sunday :)

Setelah kemarin pergi seharian, saya memang merencanakan untuk tinggal di kos saja hari ini. Selain capek, kebetulan hari ini termasuk tanggal tua untuk saya, dan mungkin jutaan karyawan lainnya di seluruh Indonesia (kecuali mungkin buat mereka yang suka ngutang dulu dan membayar minggu depan pada saat gajian :P). Meski awalnya bingung dengan apa yang akan saya lakukan, toh saya tetap bersemangat sejak bangun dari kasur.

Eh, kok ya pas banget, hujan turun hampir sepanjang hari. Mungkin tidak terus menerus, tapi jelas di pagi hari, berhenti sejenak di siang hari, dan berlanjut di sore hari. Suasana yang dingin, lembab dan menenangkan membuat mood saya menjadi, katakanlah, cozy. Saya merasa nyaman ngendon di kamar seharian penuh dan beraktivitas sesuai dengan apa yang saya inginkan. Mulai dari membersihkan laci yang sepertinya sudah setahun tidak saya cek, menyapu kamar, nonton DVD, dan sedikit browsing ke beberapa situs menarik.

Biasanya hujan membuat romantisme dalam diri saya, dan itu juga yang terjadi pada diri saya sore tadi. Ketika romantisme datang, biasanya saya akan menulis, sesederhana apapun itu, sesedikit apapun itu. Ada sesuatu yang dibawa hujan yang selalu berhasil mempengaruhi saya, terutama mood saya untuk menulis. Sayang, saya tidak langsung menuangkannya dalam tulisan tadi, hanya karena saya asyik menonton DVD dan browsing. Mumpung saya belum ngantuk, mungkin saya akan menuliskan satu, dua kalimat tentang hujan pada hari Minggu ini. Semoga tidak terlalu nyampah di blog ini 😛

——–

Hujan lagi. Aku menengadah ke langit yang kini gelap gulita dan dipenuhi titik-titik air yang menari seakan sedang membawakan tarian ritual. Entah mereka gembira atau justru sedih meninggalkan saudara-saudara mereka yang masih tersangkut di awan di atas sana. Yang jelas, aku gembira menyambut mereka yang membasahi bumi, terutama tanah kering kerontang yang berusaha menghidupi rerumputan, dan pohon-pohon kurus berdaun kuning. Lucu juga bagaimana bau tanah yang tersiram air hujan selalu menenangkan dan menyegarkan pikiranku.

Dulu aku bukan benar-benar fans dari hujan. Aku jadi menyukai hujan sejak sore itu, sore di mana mendadak aku bisa berkompromi dengan hujan. Aku ingat, waktu itu sore hari di gazebo kampus. Aku, kamu, dan dua botol air mineral yang kita bawa dari kantin belakang. Aku ingat aku menggerutu karena tugasku sempat terciprat air hujan yang begitu kencang menghantam bumi. Sedikit panik, aku menjejalkan semua kertas yang ada di atas meja ke dalam tas. Kamu cuma tertawa melihatku yang panik. Meski aku mengingatkanmu untuk mulai menyimpan buku-buku milikmu di tas, kamu cuma tersenyum simpul dan menumpuk semua buku di tengah meja supaya sedikit aman dari serangan cipratan hujan.

“Kapan hujannya selesai yah?”, gumamku tak sabar. Aku ingat kamu menatapku sambil membelalak tak percaya.

“Kamu nggak suka hujan?”, tanyamu heran seperti seorang anak TK yang heran pada temannya yang tidak suka coklat.

“Nggak terlalu. Selain basah, hujan juga membuat udara dingin. Dan aku tidak tahan dingin kan?”, balasku.

“Itu karena kamu cuma melihat efek merugikan dari hujan. Apa kamu pernah coba sejenak menikmati hujan?”

“Maksudnya? Kamu nyuruh aku hujan-hujanan gitu?”, tanyaku tak mengerti. Kamu tertawa terbahak.

“Ya bukanlah! Kurang kerjaan banget hujan-hujanan. Emangnya anak-anak?”, balasmu geli. Aku tersenyum manyun.

“Coba sekarang pejamkan matamu.”, ujarmu setelah berhenti tertawa. Aku mengernyitkan kening.

“Mejamin mata? Buat apa?”, ujarku sedikit malas.

“Halahh…coba aja kenapa sih?”, paksamu sambil menatapku dengan mata berbinar. Kurang ajar. Tak tahukah kamu kalau hatiku barusan berhenti berdetak karena tatapanmu itu?

“Hmmm….”, meski enggan, aku pun menutup mataku. Bisa kurasakan kamu tersenyum di depanku, meski yang kulihat sekarang hanyalah kegelapan. Mendadak aku mendengar bisikanmu, tepat di depan mukaku.

“Sekarang coba kamu tarik napas dalam-dalam, dan biarkan hujan melewatimu. Biarkan bau tanah yang tersiram hujan, bau rerumputan yang basah, bau bunga-bunga yang kembali segar masuk ke dalam dirimu. Kamu bisa rasakan itu?”

Sedikit geli mendengar ucapanmu yang mendadak puitis itu, aku mencoba mengikuti saranmu. Aku tarik napas dalam-dalam, mencoba melakukan apa yang kamu minta; membiarkan bau tanah, bau rerumputan dan bau bunga masuk ke diriku. Tak butuh waktu lama sebelum aku mulai meragukan kewarasanku, karena jujur, aku seolah bisa merasakan semua hal itu. Bau tanah basah yang pertama mempengaruhi perasaanku, membuatku mendadak merasa sangat rileks. Aku seolah merasa menjadi bagian tanah kering yang segar kembali karena siraman air hujan. Perlahan, bau rumput dan bunga bercampur di hidungku, paru-paruku dan kemudian otakku. Aku seperti termabuk oleh kenyamanan dan kesejukan yang ditawarkan oleh hujan, yang anehnya, baru kusadari sekarang.

Aku membuka mataku. Kamu pun tersenyum puas.

“Jadi, sekarang kamu cukup suka hujan kan?”, tanyamu puas.

Suara guntur mengagetkanku dari lamunan akan masa lalu. Aku menatap kembali langit yang kini sedikit cerah. Tersenyum, aku kembali mengingat pertanyaan itu, dan juga sorot matamu yang bersinar penuh kemenangan. Lain kali kita bertemu, aku akan menunjuk mukamu dan menyalahkanmu, Tuan.

——————

Fiuh, hasil tak maksimal dalam waktu singkat. But I kinda like it. Hope you like it too 🙂

Advertisements

One thought on “A rainy Sunday :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s