Movie Review: The Adventures of Tintin (2011)

Judul film : The Adventures of Tintin
Sutradara : Steven Spielberg
Pemain : Jamie Bell, Daniel Craig, Andy Serkis, Simon Pegg, Nick Frost
Screenplay : Steven Moffat, Edgar Wright, Joe Cornish
Tahun : 2011

Sejak pertama kali saya mendengar kabar bahwa engkoh Steven Spielberg akan membuat film layar lebar dari Tintin dalam bentuk animasi 3D, saya sudah tidak sabar untuk segera ke bioskop dan ikut serta dalam petualangan jurnalis berjambul tersebut. Seperti yang sudah pernah saya tuliskan di blog ini beberapa waktu lalu, saya menggemari Tintin sejak masa SMP (so amazed how Herge created this incredible adventure), terpengaruh ibu saya yang mengoleksi komiknya meski tidak lengkap. Dulu saya sangat suka membaca Tintin berulang-ulang, sehingga wajar jika ada sebagian cerita yang saya hafal benar plotnya. Itu termasuk Rahasia Kapal Unicorn, yang konon menjadi hati dari film ini.

Maka alangkah terkejutnya saya ketika saya mendapati betapa The Adventures of Tintin versi Steven Spielberg sedikit berbeda dari bayangan saya. Bukannya setia pada satu cerita, Spielberg menggabungkan beberapa potongan cerita dari beberapa judul Tintin dan merangkaikannya menjadi satu alur yang hampir benar-benar baru. The Adventures of Tintin benar-benar judul yang tepat, karena film ini menggambarkan beberapa petualangan Tintin yang diramu dan dimasak menjadi satu menu utama yang berbeda.

Kisah dibuka dengan Tintin (Jamie Bell) yang sedang menghabiskan waktu di pasar bersama partner setianya, Snowy, ketika ia menemukan sebuah model kapal perang unik bernama Unicorn dan membelinya. Minat si pemuda berjambul terhadap model itu pun berkembang setelah dua orang pria, Ivanovich Sakharine (Daniel Craig) dan Barnaby, memaksa untuk membeli kapal tersebut dengan segala cara. Berbekal rasa penasaran dan petunjuk bahwa ini dapat menjadi berita yang menarik, Tintin pun pergi ke perpustakaan untuk mencari tahu lebih jauh mengenai Unicorn. Dari sejarah diketahui bahwa Unicorn adalah kapal milik keluarga Haddock, dan terdapat rahasia di balik kapal tersebut yang hanya bisa dipecahkan oleh keturunan Haddock.

Sayangnya, langkah untuk mengungkapkan misteri tersebut tersendat ketika Tintin mendapati model kapalnya hilang. Dia pun mendatangi Sakharine di Marlinspike Hall dan menuduh pria itu mencuri model miliknya. Alangkah terkejutnya Tintin ketika mengetahui bahwa model kapal yang dimiliki Sakharine bukanlah miliknya, melainkan Unicorn lain yang persis sama dengan model yang ia miliki. Ia pun mulai mengira-ngira apa sebenarnya tujuan Francis Haddock, sang pelaut, yang membuat model kapal ini lebih dari satu. Penyelidikan Tintin menemui jalan terang ketika ia menemukan segulung perkamen di rumahnya yang digeledah orang tak dikenal. Rupanya perkamen itu lepas dari tiang utama Unicorn miliknya yang sempat patah karena terjatuh. 

Berbekal perkamen itu, Tintin pun melanjutkan penyelidikannya, hanya untuk kemudian diculik oleh Sakharine. Ia ditahan di kapal Karaboudjan, dan bertemu dengan Archibald Haddock (Andy Serkis), keturunan terakhir dari Haddock. Bertiga dengan Haddock dan Snowy, Tintin pun berhasil kabur dari Karaboudjan dan menuju Bagghar, mengikuti petunjuk yang ia temui di kapal. Pada akhirnya mereka terdampar di padang pasir setelah cuaca yang buruk. Namun cuaca panas justru membuat Haddock mengingat sejarah keluarganya dan menguak sedikit misteri di balik Unicorn, yaitu harta karun yang dibawa oleh Francis Haddock dan dikaramkan ketika mendapat serangan perompak pimpinan Rackham merah. Dari cerita itu diketahui bahwa Francis Haddock mewariskan petunjuk kepada tiga putranya melalui tiga model kapal Unicorn. Perkamen yang ada pada tiap kapal akan menjadi petunjuk yang membawa mereka kepada harta karun tersebut.

Di Bagghar, mereka baru mengetahui bahwa model kapal Unicorn yang terakhir dimiliki oleh Omar Ben Salaad, dan Sakharine berencana mencurinya menggunakan “senjata rahasia”-nya, Bianca Castafiore (Kim Stengel). Bagaimana Castafiore membantu Sakharine dalam melakukan rencananya? Apakah Tintin berhasil menggagalkan rencana Sakharine? Dari mana Sakharine tahu semua detail mengenai Unicorn? Silakan tonton karena saya tidak mau jadi spoiler 😛

Seperti yang sudah saya katakan, saya terkejut dengan bagaimana film ini diceritakan. Selama 30 menit pertama, jujur saya sempat protes (entah ke siapa) ke film yang jelas-jelas tidak setia pada satu alur cerita. Ada berbagai fakta yang tidak cocok, dan diambil dari buku lain seperti Kepiting Capit Emas. Seperti contohnya, Tintin belum mengenal Haddock pada saat dia menemukan Unicorn, padahal dalam komiknya, dia membeli Unicorn untuk dihadiahkan ke Haddock. Toh, setelah hampir setengah jalan, saya perlahan bisa menerima plot tersebut yang, jujur saya akui, cukup menyegarkan. Spielberg jelas menangkap kisah buatan Herge ini dengan caranya sendiri, dan salut harus saya berikan pada pembuat skenario; Steven Moffat, Edgar Wright, Joe Cornish.

Yang juga sedikit berbeda adalah penggambaran karakternya. Di komik, Tintin bisa dikatakan tidak pernah bertindak sebagai jurnalis. Dia lebih banyak beraksi sebagai detektif yang menyelesaikan masalah. Di film ini, digambarkan bagaimana dia berdedikasi pada pekerjaannya dan ingin mendapatkan sebuah berita yang menarik. Itu sedikit banyak memberikan suasana baru buat saya. Haddock jelas berbeda dengan apa yang saya bayangkan selama ini di komiknya. Andy Serkis menggambarkannya menjadi pribadi yang lebih konyol, dan sedikit banyak peragu tentang dirinya sendiri. Tidak begitu memuaskan, tapi cukup buat saya. Yang berkesan justru Sakharine, yang di komik aslinya hanya menjadi tokoh sampingan. Di film ini, Sakharine menjadi keturunan Rackham merah yang mendendam pada Haddock. Daniel Craig membawakan karakter Sakharine dengan baik buat saya. Thomson dan Thompson, as hillarious as they are in the movie, unfortunately not as hillarious as they are in the comics. And Snowy? Still adorable :).

Hal lain yang saya sukai adalah animasinya yang menakjubkan. Saya terus tersenyum ketika adegan pertarungan antara awak kapal Unicorn dan para perompak, dan merasa ikut di dalamnya. Semua terasa hidup dan menyenangkan, membuat kita merasa menjadi bagian dalam petualangan tersebut.

Overall, saya menyukai Tintin versi Spielberg ini. Film ini terasa segar, menyenangkan, mendebarkan dan membuat kita bertanya-tanya apa yang akan terjadi selanjutnya, karena kita tidak tahu bagaimana film ini akan dilanjutkan. Buat Anda penggemar Tintin, film ini wajib Anda tonton untuk mendapatkan dimensi baru petualangan Tintin. Sedang buat Anda yang tidak pernah mengenal Tintin (saya sudah merasa kasihan pada Anda :P), film ini akan memberikan sensasi petualangan yang menyenangkan, dan membuat Anda tersenyum dari awal hingga akhir cerita.

Sekarang, hanya perlu menunggu sekuel dari film ini muncul. Good job, Mr. Spielberg! 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Movie Review: The Adventures of Tintin (2011)

  1. Keputusan Steven untuk menggabungkan beberapa plot cerita Tintin justru membuat film TAoT menjadi lebih “unpredictable.” Lagi pula, judul film ini tidak berjudul “The Secret of Unicorn,” sehingga sah-sah saja bagi Steven untuk membuat alur cerita yang berbeda. Cara terbaik untuk menikmati film ini adalah: Lupakan Herge dan Tintinnya, duduk, dan tenggelamkan diri anda ke dalam jalan cerita.

    Tintin sebagai jurnalis? Terus terang bahkan di dalam komik karangan Herge, saya jarang sekali melihat Tintin bertindak sebagai jurnalis. Hampir tidak pernah saya melihat Tintin melaporkan perjalanannya ke kantor redaksi surat kabar apa pun. Saya rasa Steven pun memiliki impresi serupa dengan saya.

    Tapi memang benar, sulit bagi kita untuk melepaskan diri dari kisah yang sudah kita kenal lalu menilai sesuatu sebagai apa adanya.

  2. Halo mas Eka, makasih sudah mampir di blog ini yah 😛
    Yup, seperti mas bilang, agak susah menilai sesuatu yang sudah kita kenal baik sebagaimana adanya. Tapi setelah mereview ulang film ini dari awal, saya bisa menerima The Adventures of Tintin sebagai suatu dimensi yang baru dan menyegarkan dari Tintin.

    Kembali, salut harus saya berikan pada Spielberg dan timnya yang berhasil merangkai beberapa potongan cerita dari Tintin menjadi sebuah plot baru yang sangat masuk akal dan menyegarkan. Saya tidak sabar menunggu sekuel dari film ini, dan menebak-nebak bagaimana mereka merangkai cerita lanjutannya nanti 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s