Movie Review: Rum Diary (2011)

Judul film : Rum Diary
Sutradara : Bruce Robinson
Pemain : Johnny Depp, Giovanni Ribisi, Aaron Eckhart
Tahun : 2011

Jujur saja, saya tertarik untuk menonton film ini hanya karena ada Johnny Depp di dalamnya. Membaca sekilas informasi mengenai film ini tidak benar-benar memberi saya dasar yang kuat untuk berekspektasi apapun, selain (mungkin) film ini bercerita tentang petualangan seorang jurnalis dalam melakukan pekerjaannya mengumpulkan berita.

Paul Kemp (Johnny Depp) adalah seorang jurnalis yang baru saja pindah dari New York dan mendapat pekerjaan di sebuah surat kabar lokal di Puerto Rico bernama The San Juan Star. Surat kabar lokal ini sejatinya sudah hampir bangkrut, dan hanya tinggal hitungan bulan sebelum benar-benar ditutup. Kemp, yang merupakan seorang penulis gagal dan semi-alkoholik, direkrut untuk mengerjakan sebagian besar artikel hanya karena tidak ada lagi orang yang bekerja di koran lokal tersebut.

Di tengah perjuangannya untuk tetap bekerja dan berkompromi dengan ketergantungannya terhadap minuman keras, dia berkenalan dengan seorang warga Amerika bernama Sanderson (Aaron Eckhart) dan kekasihnya Chenault (Amber Heard). Sanderson menawarkan Kemp sebuah pekerjaan yang akan memberikannya penghasilan berlimpah, namun ilegal dan melanggar hukum. Awalnya Kemp menolak, namun sebuah insiden membuatnya terpaksa berhutang budi kepada Sanderson, dan mau tak mau, Kemp pun menyetujui tawaran Sanderson.

Celakanya, Kemp mengacaukan perjanjiannya dengan Sanderson dengan tanpa sengaja membawa Sala ke salah satu lokasi proyek pekerjaan tersebut (yang seharusnya rahasia) dan (secara tak langsung) merebut Chenault dari tangan Sanderson. Satu persatu kabar buruk menghampiri Kemp, mulai dari batalnya perjanjian dengan Sanderson, tutupnya The San Juan Star, hingga Chenault yang kembali ke New York meninggalkan Kemp. Satu tujuan terakhir Kemp sebelum dia benar-benar berakhir sebagai pecundang adalah menerbitkan cerita terakhirnya tentang kebusukan Sanderson. Berhasilkah Kemp melakukan tujuan tersebut?

Kesan pertama ketika saya selesai menonton film ini adalah: what the..? Maksudnya film ini apa yah?? Selama kurang lebih 120 menit saya diberikan potongan-potongan cerita Kemp yang tidak membentuk suatu plot sama sekali. Film ini dibuka dengan sangat lamban, membuat saya tidak sabar bahkan di 30 – 40 menit pertama. Karakter-karakter yang ada di dalamnya tidak berkesan, bahkan juga Kemp dan Moburg (Giovanni Ribisi), seorang pemabuk yang menjadi narasumber koran untuk berita pembunuhan dan kriminalitas.

Kalau film ini ingin menceritakan sepenggal kisah mengenai seorang jurnalis pecundang yang tidak bisa memutuskan sesuatu yang penting di hidupnya sampai pada suatu titik yang bisa dianggap sedikit positif (film ditutup dengan tulisan pendek bahwa Kemp kembali ke New York, menjadi seorang jurnalis dan menikahi Chenault), mungkin film ini bisa dibilang sedikit berhasil. Tetapi waktu 2 jam jelas terlalu lama untuk ide sesederhana itu, dan jujur, berbagai kejadian yang terjadi di awal dan tengah film itu sebenarnya bisa saja dipangkas karena tidak relevan dan tidak penting buat saya.

Johnny Depp buat saya cukup baik memerankan Kemp, tapi tidak membuat saya ternganga atau terkesan. Saya sedikit berharap pada karakter Moburg yang diperankan Giovanni Ribisi, supaya memberikan kesan yang mendalam meski hanya selewat. Sayangnya tidak berhasil, Moburg benar-benar menjadi hanya karakter selintas saja, yang mungkin tanpanya, film pun dapat berjalan baik.

Overall, saya tidak puas dengan film ini. Idenya tidak jelas (mungkin karena novel yang diadopsi pun tidak jelas, saya kurang tahu), karakternya tidak mendalam, dan tidak ada value yang bisa diambil. Yang sedikit menghibur adalah selipan humor di beberapa bagian film, tapi itu pun tidak bisa menjadi alasan yang kuat untuk menyukai film ini. Saya tidak merekomendasikan film ini untuk ditonton jika Anda menyukai film yang terstruktur dan jelas. Tapi kalau Anda punya waktu senggang dan sedang ingin mengomentari sesuatu, mungkin film ini bisa jadi pilihan 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Movie Review: Rum Diary (2011)

  1. Ahahahaha beneran direview =)) Gimana yah… aku aja ketiduran di 30 menit pertama. Really, even Mas Johnny couldn’t help me from dozing off. Yang tintin gak aku baca.. takut spoiler 😀

  2. Harus direview dong, supaya mencegah orang-orang jatuh ke jalan yang salah *halah* =)) Iyah, sayang banget si abang Johnny, tidak berhasil menanamkan pesonanya di film ini.

    Kenapa ga bacaaa yang Tintin?? 😛 Yaudah, nonton dulu abis gitu komen ke yang Tintin yah *maksa* =))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s