Movie Review: “Real Steel” (2011)

Nama film : Real Steel
Tahun : 2011
Sutradara : Shawn Levy
Pemain : Hugh Jackman, Dakota Goyo, Evangeline Lilly

Setelah berbulan-bulan nggak nonton ke bioskop, akhirnya kemarin malam saya nonton juga bersama teman kantor saya. Momennya juga pas banget, setelah suntuk karena banyak dan lain hal di kantor. Kebetulan film yang dia ingin tonton adalah Real Steel yang notabene belum saya dengar sebelumnya *uhuk*. Toh karena yang main si ganteng Hugh Jackman, saya pun langsung mengiyakan ajakan teman saya itu šŸ˜›

Real Steel mengambil setting di tahun 2020, tidak jauh dari masa kini, ketika olahraga bertinju / boxing tidak lagi dilakukan manusia melainkan oleh robot. Robot boxing menjadi populer karena orang ingin menyaksikan pertarungan yang lebih brutal tanpa perlu mencemaskan kematian seseorang di ring tinjuĀ (talking about anarchy..). Charlie Kenton (Hugh Jackman) adalah seorang mantan petinju yang berupaya menjadi promotor robot di olahraga baru tersebut. Sayangnya tidak hanya sering gagal, Charlie juga terjebak dalam banyak hutang. Ketika dia sampai di titik ketika dia tidak punya uang sama sekali, sebuah jalan keluar pun muncul baginya : Max Kenton (Dakota Goyo).

Max adalah anak Charlie dengan mantan pacarnya. Ketika ibu dari Max meninggal dunia, hak asuh Max disengketakan di sidang, terutama karena bibi dari Max, Debra,Ā ingin mengadopsi Max. Charlie, yang memang sedang membutuhkan uang, menawarkan untuk menjual hak asuh Max ke suami Debra, Marvin, dengan imbalan $100,000.Ā Untuk memberikan kesan baik, Charlie juga mengusulkan agar memberikan Max waktuĀ bersama Charlie selama musim panas selama Debra dan Marvin berlibur ke Italia.

Maka dimulailah petualangan bersama Charlie dan Max dalam Robot Boxing. Charlie, sebagaimana kebiasaannya, kembali menyia-nyiakan kesempatan yang dimilikinya setelah mendapatkan modal dari “menjual” Max. Ketika untuk kedua kalinya CharlieĀ jatuh dalam titik kemelaratan dan berupaya bangkit kembali, dia mendapati Max mulai masuk ke dalam hidupnya. Penemuan Max akan sebuah robot generasi awal yang kebetulan “menyelamatkan” nyawanya, Atom, mendorong bocah itu untukĀ membentuk Atom menjadi robot petinju demi mendapatkan uang untuk Charlie. Sang ayah, Charlie, yang awalnya pesimis dengan robot mungil yang sejatinya hanya merupakan robot untuk latihan,Ā perlahan mulai memberikan dukungan dan tanpa sadar, menemukan ikatan ayah-anakĀ yang sebelumnya ia kira tidak pernah ada. Pertandingan demi pertandingan pun dilalui hingga tanpa disadari mereka tiba di kompetisi robot boxing tingkat dunia untuk melawan juara dunia, Zeus.

Bagaimana ceritanya sehingga Atom, robot yang awalnya dari rongsokan bisa melawan Zeus, juara robot boxing tingkat dunia? Apakah Charlie dapat mempertahankan hubungannya dengan Max?

Pertanyaan itu akan bisa Anda jawab setelah menonton filmnya sendiri *smile*. Terlalu banyak spoiler akan merusak kesenangan menonton film ini šŸ˜› Bagi saya, film ini sangat menghibur. Idenya cukup menarik meski mungkin sudah banyak dieksplor di film lain. Eksekusinya pun cukup bagus melihat robot-robot tersebut seolah benar-benar hidup dan bertarung. Namun yang paling menyenangkan buat saya adalah karakter-karakter di dalamnya. Max Kenton alias Dakota Goyo is so adorable! Entah karena gaya rambutnya, mukanya yang imut-imut, atau dansa yang dia lakukan setiap kali Atom akan bertanding (yak, dia memang berdansa :P) yang mengingatkan saya pada Bieber versi mungil. Dakota jelas berhasil memerankan Max buat saya, dengan gaya yang seenaknya sendiri, keras kepala tapi tetap berisi kenaifan seorang anak kecil.

Sedangkan Charlie Kenton…yah, mengingat dia diperankan Hugh Jackman, what should I say? šŸ˜› Ganteng dan menawan buat saya *ehem*. Yang saya sayangkan adalah kurangnya explorasi Charlie sebagai petinju, karena saya bayangkan Hugh akan sangat pantas memerankan seorang petinju. Tapi mengingat yang mejadi topik utamanya adalah si robot (judul filmnya aja Real Steel), saya bisa menerima porsi yang diberikan untuk Charlie. Tidak berlebihan dan tidak juga kurang. Hugh Jackman mempesona saya dengan ketidakbecusannya sebagai seorang pria, seorang ayah, namun akhirnya berusaha untuk memperbaiki hidupnya setelah bertemu dengan anaknya.

Kesimpulan akhirnya, film yang menghibur, tidak berat, cukup menyenangkan ditonton kala penat karena ada unsur humor di dalamnya. Hope you enjoy it as I did šŸ˜‰

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s