Late post about Lausanne….

Oke, ini memang sudah 2 minggu sejak saya pulang dari Lausanne, dan mungkin kebanyakan orang akan mencemooh melihat post yang terlambat dan tidak “happening” ini *senyum kecut*. Tidak ada alasan yang lebih baik selain “Tidak sempat!” karena ya, memang saya benar-benar tidak sempat. Seminggu penuh setelah saya pulang dari kota indah itu, saya dikejar-kejar oleh auditor tiap harinya hingga pekerjaan saya sendiri terbengkalai hingga sekarang. Belum lagi saya travelling lagi ke Singapura minggu lalu, dan saya masih harus memberikan training ke partner baru saya. Jadi, bisa dibayangkan bagaimana “sempatnya” saya untuk mampir mengecek keadaan blog tercinta ini *peluk laptop*.

Long story short, it’s been a great experience at Lausanne! Again, I am falling in love with the city. Gedung-gedungnya, jalanannya, orang-orangnya, transportasi umumnya, pemandangannya… semuanya indah dan menyenangkan. Tentu, jika kita biasa berada di Jakarta, Lausanne akan terasa sedikit membosankan karena tiap jam 6.30, semua toko sudah tutup di sana. Hanya rumah makan dan bar yang buka hingga malam, tempat orang-orang sering nongkrong dan hang out. Belum lagi biaya barang yang notabene mahal akan membuat kita berpikir ribuan kali sebelum merogoh kocek dalam-dalam. Otomatis kita hanya bisa jalan-jalan, ambil foto, dan makan ketika di sana. Akan terdengar membosankan bagi mereka yang doyan shopping atau sangat aktif di luaran *uhuk*. Tapi buat saya, pengalaman berada di negara Eropa saja sudah sangat luar biasa, sehingga hal itu tidak terlalu saya pikirkan 😉

Alhamdulillah, saya memang sangat beruntung bisa ke sana lagi untuk kedua kalinya karena tugas kantor. Kesempatan kali ini pun lebih lama, selama 2 minggu. Karena itu saya menyempatkan diri untuk ke kota lain, Montreux dan Geneva pada hari Sabtu, tentunya dengan kocek sendiri *hiks*. Pergi 1 hari ke dua kota ternyata bukan ide yang terlalu brilian, karena meski saya merasa senang bisa menghabiskan waktu di salah satu kastil populer di Montreux, saya tidak sempat menjelajah Geneva lebih jauh. Waktu sudah terlalu malam ketika kami baru menyusuri sepersekian bagian dari kota 😦 

Hari Minggu saya dan beberapa rekan kantor ke Evian, salah satu kota di Perancis. Jauh dari yang saya bayangkan, kota penghasil air mineral mahal Evian itu ternyata sepiii sekali… tidak ada keramaian sebagaimana Lausanne. Saya pikir tadinya karena jadwal kapal yang merapat dari Lausanne cukup banyak, Evian akan memiliki beberapa tempat wisata yang menyenangkan untuk dikunjungi. Ternyata oh ternyata…. sepi banget. Sisa waktu sesorean akhirnya kami habiskan dengan nongkrong di salah satu rumah makan, sembari menunggu jadwal kapal kembali ke Lausanne. Oh ya, itu mengingatkan saya, itu pertama kalinya saya naik kapal lho! Dan saya lega, ternyata saya tidak mabuk laut. Berkuranglah satu kecemasan saya 🙂

Dua minggu di Lausanne terasa lama dan juga singkat. Lama karena saya teringat keluarga saya yang baru saya tinggalkan setelah Lebaran (yup, saya berangkat di hari ke-3 setelah Lebaran). Singkat karena ketika saya pulang, saya rindu setengah mati pada kota sederhana itu. Kini saya berdoa, semoga tahun depan saya diberikan kesempatan ke sana lagi. Amin ya robbal alamin… Doakan saya ya! 😉

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s