Ketika anak kota nonton wayang….

…terkagum-kagum dan terbengong-bengong jadinya. Ini beneran! Terutama karena korban *jiah* tersebut adalah saya sendiri, si anak kota yang notabene jarang sekali bersentuhan dengan budaya, adat istidat, kesenian daerah. Sama seperti ratusan, ribuan, jutaan anak muda yang lain, saya (sebelumnya) sama sekali tidak memiliki minat akan sesuatu yang berbau kesenian daerah. Bukan dengan alasan kuno, atau nggak jaman. Buat saya, itu terlihat membosankan dan ribet. Saya suka yang praktis, terpengaruh jaman yang makin lama makin minimalis. Sesekali menikmati kesenian daerah dari liputan TV, nggak masalah. Tapi terlibat langsung? Hmm..biasanya saya akan pikir-pikir dulu.

Itu sebabnya, betapa herannya saya mendapati diri saya terpukau dan terpana menonton pertunjukan wayang kulit di penutupan Festival Dalang Bocah 2011 di gedung Learning Center BI, daerah Menteng. Tujuan utama saya sebenarnya bukan nonton wayangnya, melainkan hunting foto si dalang yang sedang memainkan wayangnya. Karena saya jarang mengambil foto kesenian daerah, saya bela-belain ke sana sendirian meski tanpa teman (tadinya sih janjian ama temen-temen kantor, tapi sialnya sama sekali ga ketemu di TKP). Acara dimulai jam 9, sehingga saya terpaksa menunggu dari jam 8 (terlalu rajin..). Tepat ketika acara wayang dimulai, saya pun pergi ke sisi panggung untuk mengambil foto si dalang yang sedang beraksi. Sekali jepret, dua kali jepret, beberapa kali jepret. Sembari istirahat, saya mengecek hasil foto, dan cukup puas karena hasilnya tampak bagus. Di tengah-tengah break itulah, saya iseng-iseng mengikuti jalan cerita wayang tersebut. Kebetulan lakonnya Rama-Shinta sehingga saya cukup paham jalan ceritanya.

And, oh my, how I was blown away with the play! Baik babak pertama, yang diisi oleh dalang orang BI, maupun babak kedua, yang diisi dalang profesional, saya sungguh menikmati jalannya pertunjukan tersebut. Bagaimana si dalang mampu menghidupkan tiap karakter, bagaimana tim karawitan mampu memberikan latar belakang suara yang tepat dan mengejutkan, bagaimana sinden memberikan suasana yang syahdu dan menghanyutkan… sungguh menyenangkan! Saya merasa seperti sedang menonton film langsung dari studionya. Bisa diibaratkan saya sedang menonton pertunjukan Broadway, ala Indonesia tentunya :)) Sepercik rasa bangga dan bahagia menyeruak masuk ke dalam benak saya. Alangkah beruntungnya kita memiliki budaya yang mengagumkan dan diakui oleh dunia internasional. Sayang, tidak semua orang mengerti hal itu. Atau mungkin mereka mengerti, namun tidak begitu peduli.

Mendadak saya malu. Namun di lain sisi juga bersemangat. Jika anak-anak kecil itu bisa melakukan sesuatu untuk melestarikan budaya tersebut, mengapa kita tidak? Mengapa saya tidak bisa melakukan sesuatu untuk melestarikan budaya tersebut? Saya rasa ini saatnya kita untuk mengenal lebih jauh budaya kita, paling tidak memahami sedikit, sebelum mencari cara untuk berkontribusi dalam melestarikannya.

Pada akhirnya, saya sadar saya bisa menyukai wayang, sesuatu yang tadinya saya pikir ribet dan membosankan. Saya lega saya belum kehilangan kecintaan pada kultur budaya kita. Bagaimana dengan Anda? 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s