Cerpen : “Rainy Saturday”

“Yaahhh…kok hujan lagi sih?”, tanpa sadar aku memprotes, entah kepada siapa, ketika perlahan titik-titik air mulai jatuh dari langit, berlomba untuk mengenai kepala orang-orang yang sekarang berhamburan panik. Berdecak kesal, aku berdiri di depan supermarket sambil menenteng dua tas plastik besar. Padahal aku sudah sengaja mempercepat belanjaku karena hujan yang turun sedari subuh itu sudah sempat reda ketika aku sedang asyik mendorong troli kesana kemari. Ternyata…. aku terkena candaan langit!

Menghela napas, aku memutuskan untuk duduk sembari menanti langit menghentikan ejekannya. Untunglah di depan supermarket ini ada bangku, sehingga aku bisa mengistirahatkan kaki dan meletakkan barang belanjaan yang ternyata cukup berat. Kebetulan supermarket itu juga tidak terlalu ramai; mungkin karena masih Sabtu pagi. Setelah sejenak melihat-lihat situasi sekitar, aku mengambil BB dan mulai menyibukkan diri agar tidak merasa bosan.

Perhatianku terganggu ketika aku mendengar tangisan bayi yang cukup kencang. Ternyata tak jauh dari bangku tempatku duduk, ada seorang ibu muda yang kerepotan menenangkan bayinya di gendongan sambil membawa tentengan belanjaan. Aku mengerjapkan mata. Kasihan banget anak itu…mungkin kedinginan dan ingin cepat pulang. Aku tidak menyalahkannya; jika aku sebesar dia, mungkin aku akan melakukan hal yang sama. Sang ibu tampak makin kerepotan ketika si kecil mulai meronta-ronta di pelukannya.

Butuh waktu sejenak sebelum aku membulatkan pikiranku, dan bangun dari tempat dudukku. Berdehem, aku menatap ke ibu muda itu dan memanggilnya, “Bu, silakan duduk di sini!”

Alangkah terkejutnya aku ketika mendengar suaraku berubah menjadi suara laki-laki! Apakah aku mengalami perubahan gender mendadak? Kebingungan, aku menoleh ke samping dan melihat seorang cowok menatap ke arahku. Dengan perasaan lega karena menyadari suara tersebut adalah suaranya, aku tersenyum ke arahnya, lalu kembali menoleh ke arah si ibu muda.

“Duduk aja di sini Bu, biar nggak terlalu repot. Lumayan bisa istirahat sambil menenangkan si kecil.”, ujarku cepat sambil beranjak mengambil belanjaanku dan bergeser. Hal luar biasa terjadi hanya sedetik kemudian.

Cowok tersebut tiba-tiba saja sudah di samping si ibu, mengambil semua belanjaannya, dan segera menaruhnya di tempat tadi dia duduk. Ternganga, aku melihat si ibu tersenyum berterima kasih ke arahku, mengangguk, lalu bergegas menuju tempat yang sudah disediakan. Entah kenapa aku merasa seperti kecolongan – hal yang aneh karena toh kami bukannya berlomba.

Aku menatap lelaki yang sekarang berjalan ke arahku. Dia berhenti di depanku dengan seulas senyum.

“Sudah sepantasnya cowok yang ngalah untuk cewek.” 

Dengan ucapan itu, dia berbalik dan pergi menembus hujan. Ah. Ralat, menembus hujan dan juga hatiku.

***

“Kamu suka ama orang yang kamu temui di supermarket komplek?”

Pertanyaan bernada “kamu bercanda kan?” itu keluar dari bibir teman tercintaku, Kiki. Sedikit merona, aku merebut si Ireng, boneka beruangku yang sejak tadi dipegang Kiki. Melotot, aku memonyongkan bibir.

“Kalau iya emangnya kenapaaaa? Banyak kok cerita tentang love at the first sight!”

“Yah..dalam novel roman atau film komedi romantis mungkin aja terjadi, wong ada penulis ceritanya! Lha ini? Realita neng…”

“Eh, siapa bilang realita ga ada penulisnya? Yang Maha Esa penulisnya! Lupa?”

Tertawa keras, Kiki mengangguk menyetujui.

“Ah, iya…bener bangett…alpa diriku! Jadi, gimana caranya kamu bakal ndeketin tuh orang kalo kenal aja nggak?”

Aku mendesah. Pertanyaan bagus.

“Itu dia…aku cuma bisa menduga kalau dia juga tinggal di komplek ini, secara dia belanja di supermarket itu. Tapi mana tahu dia tinggal di mana? Masa aku harus jadi petugas sensus dan keliling nyari ke rumah-rumah?”

Kiki menyeringai. “Sebenarnya itu ide yang bagus lho, mengingat mukamu ada potongan petugas kelurahan…..”

“Siaul…!”, gumamku sambil terkekeh.

“…gini aja, minggu ini kan kalau ga salah kamu cerita bakal ada kegiatan karang taruna komplek kan? Coba aja kamu ikut, siapa tahu cowok itu juga ikutan.”

“Err…mbak… karang taruna? Umurku sudah 25 bu… pantesnya jadi karang tetua, bukan karang taruna!”

“Halahh…tumben-tumbenan kamu peduli masalah umur! Biasanya juga ngaku-ngaku sok muda di depan orang.”, balas Kiki sambil menjulurkan lidah.

“Ya iya sih..tapi mbayangin bakal kumpul ama ABG-ABG yang ‘gaul’ jaman sekarang rasanya gimanaaa gitu. Bisa-bisa aku jadi korban pengucilan nanti!”, ujuarku cemas.

“Halah, kamu selalu aja berlebaian. Siapa coba yang biasanya nasehatin supaya lebih terbuka, lebih proaktif dalam mencari teman? Siapa heh?”

Aku nyengir kecut. Kena lagi deh.

“Iya deh…aku ikutan minggu depan. Tapi awas kalo sampe ga menghasilkan apa-apa ya! Kamu tanggung jawab!”

“Yee..namanya juga perjuangan untuk cinta… hasil bagus atau buruk bisa aja terjadi. Yang penting prosesnya, neng…. itu yang bikin semuanya jadi terasa menyenangkan dan mendebarkan. Tul kan?”

Aku tertawa sambil menggeleng. Pasrah, aku tahu aku akan mengikuti sarannya. 

***

Entah kebetulan atau tidak, keesokan Sabtu ketika aku berniat akan ke acara karang taruna tersebut, mendadak hujan kembali turun dengan manisnya, seolah memperingati kemungkinan pertemuan kembali antara aku dan lelaki itu. Mendesah, aku menyambar payungku sebelum berjalan keluar rumah. Bukannya aku tidak suka hujan; aku suka bau tanah kering yang tersiram air hujan. Berada di tengah guyuran hujan dengan payung dan merasa kedinginan, sayangnya, bukan salah satu hal favoritku tentang hujan. Toh, mau tak mau aku mengakui, berjalan di tengah hujan sedikit banyak menimbulkan kesan romantis, dan aku suka romantisme. 

Lapangan tempat berkumpul karang taruna tersebut tidak jauh, jadi aku putuskan untuk tidak terburu-buru ke sana. Toh, hujan selalu menjadi pembenar semua keterlambatan yang terjadi di dunia. Bersenandung pelan, aku mulai memutar-mutar payungku sambil berjalan santai. Kuayunkan langkah seringan mungkin, bahkan kadang sedikit melompat, berkhayal aku menjadi seorang gadis yang tersesat di sebuah jalan tanpa ujung. Tersesat dan kebingungan mencari seseorang yang merupakan bagian hidupku; seseorang yang mampu membuat jantungku mendadak bekerja demikian keras, berdebar tanpa aturan.

Seperti yang mendadak terjadi padaku sekarang.

Aku hampir yakin bahwa jantungku bisa terlempar keluar kapanpun juga saking kencangnya berdebar.
Tak jauh dariku, tepat di depan lapangan yang kutuju, sebuah sosok berdiri tegak. Payung hitam besar yang menaunginya memberikan kesan gagah yang mengesankan; bagai perisai seorang ksatria yang bertugas menjaga gerbang kerajaannya.

Seriously…, “  gumamku sambil menelan ludah.

Tak salah lagi. Itu dia.

Cowok yang merebut niat baikku minggu lalu itu tampak melihat ke sekeliling, seperti tak sabar menanti kedatangan seorang, dua orang yang terlambat menemuinya. Dengan mimik muka lucu, dia mengangkat bahunya, dan mendadak mulai memutar-mutar payungnya.

Dan pandangan kami pun bertubrukan.

Janggal sekali merasakan waktu sepersekian detik terasa begitu lambat, bagaikan kilasan flashback film kuno. Aku tersenyum. Dia tersenyum. Aku berjalan mendekatinya, masih sambil memutar-mutar payung. Kami pun berhadapan.

“Jadi kamu tinggal di sini ya?”, ujar kami bersamaan.

Tawa kami pun meledak saat itu juga. Tak perlu ada yang dikatakan lagi. Hati kami telah bicara, menggantikan kata-kata yang sedianya keluar dari mulut. Kurasa langit dan hujan akan tersenyum puas di atas sana.

***

PS : Waaah…cerpen ini adalah “kecelakaan” saat sedang membuat cerita bertema #PDKT untuk proyek kumpulan cerpen koin sastra. Untung saja saya tidak memutuskan untuk menghentikannya di tengah-tengah, karena ternyata… saya cukup suka hasilnya! 😀 Karya ini memang amatir…jadi masukan dari teman-teman akan sangat menyenangkan. Terakhir, semoga kalian menyukainya ya 😉

Advertisements

4 thoughts on “Cerpen : “Rainy Saturday”

  1. Hehehehe….berdasarkan khayalan yang diharapkan menjadi true story…. 😛
    Makasih sudah mampir ya mas 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s