Movie review : King’s Speech (2010)

Judul Film : King’s Speech
Sutradara : Tom Hooper
Screenplay : David Seidler
Pemain : Colin Firth, Geoffrey Rush, Helena Bonham Carter

Setelah absen mengisi blog selama kurang lebih dua minggu, akhirnya saya bisa kembali menulis (fiuhh..) dan dengan post yang saya sukai : review film! Saya menonton King’s Speech hari Sabtu lalu, pas heboh-hebohnya berita bahwa film Hollywood tidak akan bisa masuk ke Indonesia lagi karena aturan bea cukai yang baru. Mumpung belum ditarik, saya sempat-sempatin deh nonton film yang menjadi nominasi Golden Globe dan Academy Award ini. Apalagi aktor utamanya termasuk salah satu di antara mereka yang saya sukai; si kharismatik Colin Firth! 🙂

Bayangkan jika Anda adalah seseorang dari keluarga kerajaan yang memiliki penyakit bawaan gagap. Perasaan apa yang Anda miliki tiap harinya? Marah? Kecewa? Sedih? Tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk bisa menyembuhkan ketidaknormalan itu dan tidak mempermalukan keluarga kerajaan ? Setidaknya itulah yang  mungkin dialami Duke of York, alias Albert Frederick Arthur George (Colin Firth). Sebagai putra kedua Raja George V, dia memang tidak diharapkan menjadi raja, apalagi masih ada kakak laki-lakinya, Edward, yang berada di barisan depan untuk menggantikan ayahnya. Toh bagaimanapun, kegagapannya membuatnya susah memberikan pidato di depan khalayak ramai sebagai Duke of York. Tak heran, ia berjuang mati-matian mencari cara untuk bisa berbicara dengan normal.

Adalah istrinya, Elizabeth (Helena Bonham Carter), yang kemudian menemukan Lionel Logue (Geoffrey Rush), seorang terapis bicara berkebangsaan Australia yang memiliki metode tak lazim dalam pengobatannya. Meski awalnya skeptis, mau tak mau Bertie (panggilan sayang untuk George) mengakui bahwa cara yang digunakan Lionel cukup unik dan memberikan hasil yang jauh lebih baik dari semua jenis pengobatan yang dia jalani. Yang tadinya benci, akhirnya malah menjadi teman baik. Begitu baiknya sampai-sampai Bertie bersedia membagi kisahnya dan kisah keluarganya pada Lionel tanpa segan.

Seiring pengobatan yang terus berjalan, Bertie menghadapi issue baru di keluarganya. Kakaknya, Raja Edward VIII, yang sebelumnya menerima tahta ayahnya setelah ayahnya meninggal, memutuskan untuk melepaskan kedudukannya untuk menikahi janda berkebangsaan US, Wallis Simpson. Di tengah kegalauan Bertie menerima tahta sebagai Raja George VI – yang tentunya harus berbicara di depan orang banyak – dukungan Lionel dan Elizabeth membuatnya terus berkembang dan mampu mengatasi kegagapannya setahap demi setahap. Pada akhirnya, Raja George VI menjadi raja (ayah dari Ratu Elizabeth II) dan berteman baik dengan Lionel hingga akhir hayatnya.

Yang pertama saya sukai dari film ini adalah kisah ini berkaitan dengan sejarah, khususnya sejarah kerajaan Inggris. Selalu menyenangkan buat saya menonton film dengan latar belakang sejarah kerajaan, karena saya  selalu bisa mendapatkan pengetahuan baru. Yang kedua saya sukai di film ini adalah karakter-karakter di dalamnya (dan tentu saja tokoh yang memainkannya ya). Empat jempol untuk Colin Firth yang begitu indahnya memainkan Bertie, sampai-sampai saya hanyut dalam kegalauan sang Duke ketika dia bertarung dengan kegugupannya. Empat jempol pula untuk Geoffrey Rush yang begitu cerdas menjadi seorang Lionel Logue; seorang yang bukan dokter, tidak memiliki ijazah apapun, namun memiliki bakat alami untuk menyembuhkan seseorang dari ketidakmampuan berbicara. Empat jempol + empat jempol (nggak tahu minjem jempolnya siapa juga :P) = jelas sudah, hubungan yang terjalin antara kedua tokoh ini begitu menonjol dan menawan. Tak heran hati saya bisa begitu mudahnya jatuh kepada dua karakter luar biasa ini 🙂   

Tentunya yang juga tidak lepas dari jempol saya adalah Helena Bonham Carter, yang terlihat sangat cuek menjadi seorang istri Duke of York. Meski perannya mungkin tidak semenonjol Lionel, toh, tanpa kehadirannya, rasanya kurang lengkap juga, apalagi dengan gaya bicaranya yang lucu dan supportnya kepada sang suami tercinta Bertie.

Pada akhirnya, pantaslah jika Colin Firth diganjar Golden Globe sebagai the best actor tahun ini. Sayang sekali Geoffrey Rush tidak menemaninya untuk the best supporting role…. Saya sudah kadung jatuh cinta pada kedua orang ini yang dengan brilian menunjukkan hubungan pertemanan yang luar biasa indah (selalu ketawa sendiri kalo inget gimana pertemanan mereka yang sering dibumbui perdebatan :P). Akankah duo maut ini menyabet penghargaan di Academy Awards tanggal 28 Februari nanti? Kita lihat yuk! 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s