Sedikit tentang Imlek….

Ya, tahu-tahu sudah imlek lagi besok. Tahu-tahu satu tahun baru dalam kalender Cina sudah berlalu lagi. Meski saya tidak merayakannya, rasanya selalu seru melihat berbagai jenis kegiatan atau acara yang diselenggarakan oleh para warga Tionghoa di berbagai daerah di Indonesia. Nuansa merah, angpau, kue-kue dan petasan menjamur di berbagai sudut kota; hal yang wajar mengingat jumlah masyarakat Indonesia yang merupakan keturunan Tionghoa. Hal yang menunjukkan keanekaragaman suku dan ras di Indonesia, dan tentunya, luar biasa indah 🙂

Supaya tahu sedikit tentang imlek, saya akan menaruh beberapa informasi yang diambil dari mbah wiki. Ternyata perayaan tahun baru imlek dimulai di hari pertama bulan pertama (Chinese: 正月; pinyin: zhēng yuè) berakhir dengan Cap Go Meh 十五冥 元宵节 di tanggal kelima belas (pada saat bulan purnama). Malam tahun baru imlek dikenal sebagai Chúxī yang berarti “malam pergantian tahun”. Di Tiongkok, adat dan tradisi wilayah yang berkaitan dengan perayaan Tahun Baru Cina sangat beragam. Namun, kesemuanya banyak berbagi tema umum seperti perjamuan makan malam pada malam Tahun Baru, serta penyulutan kembang api.

Ternyata ada mitos / dongengnya juga lho si imlek ini! Masih berdasar mbah wiki, menurut legenda Cina, dahulu kala muncullah Nián (年), seorang raksasa dari pegunungan yang muncul di akhir musim dingin untuk memakan hasil panen, ternak dan bahkan penduduk desa. Untuk melindungi diri, para penduduk menaruh makanan di depan pintu mereka pada awal tahun. Mereka percaya dengan melakukan hal itu, Nian akan memakan makanan yang telah mereka siapkan dan tidak akan menyerang orang atau mencuri ternak dan hasil Panen. Inilah yang menjadi kebiasaan masyarakat Tionghoa untuk menyiapkan banyak makanan pada saat imlek.

Nah, warna merah yang menjadi ciri khas imlek juga ternyata ada ceritanya. Pada suatu waktu, penduduk melihat Nian lari ketakutan setelah bertemu dengan seorang anak kecil yang mengenakan pakaian berwarna merah. Penduduk kemudian percaya bahwa Nian takut akan warna merah, sehingga setiap kali tahun baru akan datang, para penduduk akan menggantungkan lentera dan gulungan kertas merah di jendela dan pintu. Mereka juga menggunakan kembang api untuk menakuti Nian. Adat-adat pengusiran Nian ini kemudian berkempang menjadi perayaan Tahun Baru. Guò nián, yang berarti “menyambut tahun baru”, secara harafiah berarti “mengusir Nian”. Sejak saat itu, Nian tidak pernah datang kembali ke desa. Nian pada akhirnya ditangkap oleh Hongjun Laozu, seorang Pendeta Tao, dan Nian kemudian menjadi kendaraan Honjun Laozu.

Lumayan seru juga ternyata cerita tentang imlek ini, bikin melek mata siang-siang, hehehe… Kalo ga salah untuk tahun ini perayaannya adalah tahun kelinci. Lagi, karena saya tidak merayakannya, saya tidak tahu beda imlek tahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya. Saya rasa saya hanya (lagi) akan menikmati kemeriahan suasana perayaan imlek di TV atau di area tertentu di ibukota besok, dan jika beruntung, mendapatkan satu-dua foto yang indah 😉

Jadi, selamat berhari libur besok dalam rangka Imlek! 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s