Ketika saya merasa segalanya tidak berjalan dengan baik…

……..jujur, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Yang saya tahu saya akan berusaha menjalankan kewajiban saya sebaik-baiknya, apalagi ketika situasi ini muncul pada saat saya bekerja. Saya usahakan semua pekerjaan saya terselesaikan dengan baik, meski perasaan saya masih acak adut dan tak jelas ke arah mana rimbanya.

Dan ya, itulah yang terjadi pada saya hari ini. Entah kenapa, sejak pagi situasi saya memburuk. Secara mental terutama, ketika saya merasa bahwa semua orang tidak dapat diajak bekerja sama dengan baik dan hanya mementingkan ego mereka masing – masing. Meski demikian, bukannya saya tidak sadar bahwa saya terkadang cukup egois juga dengan memaksa orang-orang mengerjakan tugas mereka secepat-cepatnya. Menghadapi situasi ini, bukannya berpikir jernih dan berusaha membawa situasi ke kuadran nol (di mana tidak ada justifikasi dan hanya berprasangka baik), saya memperkeruh suasana dengan menyudutkan diri saya; bahwa saya kurang baik, kurang cepat, kurang tanggap dan kurang yang lainnya. Untuk membuat makin bombastis, saya juga menjadi marah kepada orang-orang yang saya anggap “tidak mengerti” saya. Padahal sungguh, saya bahkan tidak tahu kadar “mengerti” yang bagaimana yang saya inginkan.

Saya tidak tahu apakah saya terlalu keras pada diri saya, namun saya tahu bahwa setiap kali terjebak pada situasi seperti ini (entah karena jenuh, lelah, capek atau apapun), saya biasanya melarang diri saya mengeluh. Saya merasa menjadi seorang pengecut dengan mengeluh pada seseorang. Saya hanya diam, dan meneruskan apa yang menjadi tanggung jawab saya. Tidak terbersit dalam pikiran saya untuk membaginya dengan rekan kerja, karena, yah, mereka menjadi “orang-orang yang tidak mengerti saya” saat ini. Sharing dengan teman dekat dan keluarga sedikit membantu, tapi tidak pernah benar-benar menghilangkan kesedihan dan kehampaan di hati saya.

Di saat seperti ini saya teringat agama saya. Oh, Tuhan… ternyata hamba telah melupakanMu sekian lama! Ya, saya menjadi sangat malu… bukannya mendekatkan diri pada Tuhan, saya malah bermesraan dengan kerjaan, komputer, email, dan hal-hal duniawi lainnya. Apakah hati saya telah tertutup? Saya tidak tahu tapi saya sangat berharap tidak. Saya takut jika hal itu terjadi. Ya Allah, bantulah hamba-Mu ini keluar dari lubang gelap ini dan kembali ke dirinya seperti sedia kala.

Lucu rasanya menyadari bahwa kita bisa sedemikian mudah menjauh dari agama, dan mencari cara lain untuk menenangkan diri atau jiwa. Namun ketika panggilan agama itu tidak muncul di diri kita, lalu apa yang harus kita lakukan? Apa yang harus saya lakukan ? Andaikan saya tahu jawabannya, mungkin hari ini saya tidak akan mengalami situasi yang gelap dan membuat saya putus asa akan semua hal. Meski demikian, saya bersyukur saya masih punya keyakinan bahwa semua akan baik-baik saja, jika saya bisa mengambil kendali dalam hidup saya. Ya, minimal saya akan bisa mengarahkan ke mana saya akan melangkah, meski mungkin tidak seideal yang saya harapkan.

Hidup adalah pelajaran, di mana kita kadang mendapatkan apa yang kita mau dan kadang tidak. Ketika kita merasa semua tidak berjalan dengan baik, semua kembali kepada kita, apakah kita akan membiarkan diri larut pada arus, atau kita mengambil alih kendali dan menentukan ke arah mana kita akan melangkah. Saya memilih yang terakhir. And hope you all too.

Advertisements

2 thoughts on “Ketika saya merasa segalanya tidak berjalan dengan baik…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s