Lebih baik menulis sedikit…atau tidak sama sekali?

Kita pasti sering mendengar istilah itu. Mendingan melakukan sesuatu sedikit, daripada tidak sama sekali. Tapi ada juga yang membantah dengan mengatakan, daripada ngerjain sesuatu ga niat (karena cuma sedikit), mendingan ga sama sekali aja. Toh jadi bisa hemat energi, modal dan mungkin hal yang lainnya. Tiap orang bisa memilih yang manapun tergantung persepsi mereka masing-masing. Yang manapun, toh mereka jualah yang bisa menentukan pilihan mana yang ternyata cocok untuk mereka (setelah tentu merasakan manfaat atau justru kerugian dari pilihan itu).

Saya sendiri terbiasa melakukan “mending ga sama sekali daripada cuma sedikit-sedikit.” Hal ini terutama berlaku untuk olahraga atau olah tubuh. Ya, saya memang bisa dikategorikan pemalas…saya tahu itu. Tapi sama seperti semua orang di dunia, selalu ada pembenaran untuk apa yang kita lakukan, dan buat saya, ya prinsip “mending ga sama sekali daripada cuma sedikit-sedikit” itu yang saya anut. Hasilnya ternyata merugikan saya. Tanpa gerak sama sekali, yang saya rasakan hanya lelah berkepanjangan setiap kali bangun tidur. Sekarang saya berusaha merubah prinsip saya ke “(mungkin) lebih baik gerak sedikit daripada tidak sama sekali.”, but believe me… it’s harder than I think! 😛

Nah, bagaimana dengan menulis? Buat saya, menulis itu sesuatu yang spesial. Sesuatu yang menyenangkan, tapi juga kadang menyebalkan. Tahu kan dengan keinginan manusia untuk bisa melakukan sesuatu dengan sempurna dan (harapannya) dapat membuat orang merasakan hal yang sama? Itu yang sering saya alami. Saya begitu ingin menulis sesuatu yang bagus, sehingga ketika saya merasa apa yang saya miliki tidak cukup bagus, saya tidak menulisnya. Mungkin orang akan bilang saya bodoh karena membiarkan ide menguap begitu saja (sometimes I just think the same way…), tapi saya sudah pernah mengalami banyak hasil karya yang gagal, karena saya asal menulis saja apa yang ada di otak saya. Akibatnya, ide-ide itu hanya muncul dalam bentuk puncak gunung es, bukan dasar gunung es yang menjadi akar sebuah cerita ataupun artikel ataupun sebuah opini.

Lalu bagaimana seharusnya sebaiknya? Menggunakan prinsip yang saya gunakan (mending ga nulis kalo ga bener2 mantep)? Atau menulis saja sesedikit apapun dan berharap nanti akan bisa selesai (yang sayangnya, dalam kasus saya, terus menerus gagal)?

Saya belum mendapatkan jawaban yang memuaskan dari kedua pilihan itu… Tapi ada kemungkinan itu lebih karena karakter saya sendiri yang sering berubah-ubah mood dan ide.

Bagaimana menurut Anda?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s