Eh? Sudah mau Ramadhan lagi?

Itu pikiran pertama yang terlintas di kepala ketika melihat kalender. Ya, tanpa terasa setahun sudah berlalu sejak saya berpuasa di Cikarang dan shalat tarawih di masjid belakang Mall Lippo Cikarang. Saya ingat, Lebaran terakhir saya lewatkan dengan berziarah ke makam Eyang di Pekalongan serta berkunjung ke rumah saudara di Semarang. Luar biasa betapa waktu berlalu dengan cepatnya, tanpa memberi peringatan kepada kita barang sedikitpun.

Tak urung saya merenungi sesaat kedatangan Ramadhan yang pelan namun pasti ini. Saya mengingat-ingat lagi apa saja perbaikan yang sudah saya lakukan sejak ibadah puasa wajib saya yang terakhir. Buntu. Saya coba gali lebih dalam lagi. Gali, gali dan terus gali….. Sepertinya memang ada satu dan dua kebaikan yang saya lakukan… Namun apakah itu menjadi kebiasaan saya seterunya? Hm… dengan berat hati saya katakan : tidak !

Mendadak saya panik. Apa gunanya saya berpuasa sebulan penuh tahun lalu di bulan luar biasa dan penuh rahmat tersebut jika saya tidak bisa mengambil esensi apapun? Pikir baik-baik, Niken… Pikir! Saya memaksa otak saya menjelajah ke seluruh memori yang bisa saya ambil. Ayolah. Kamu memiliki 365 hari sejak menunaikan Shalat Idul Fitri terakhir. Pasti ada sesuatu yang baik yang menjadi kebiasaan barumu.

Namun apa nyana, hanya kesia-siaan yang saya temui di ujung pergulatan otak mencari memori. Yah. Ternyata saya masih belum berubah sepenuhnya. Memang, ada saat-saat di mana saya mencoba berubah, dan saya lakukan. Tapi masih lebih banyak waktu di mana saya terpengaruh oleh hawa nafsu dan emosi. Ah…saya masih belum dewasa.

Dan kini, ketika kembali berhadapan dengan bulan penuh rahmat di depan mata, rasa malu, sedih, kecewa pada diri sendiri menyeruak perlahan, mengingatkan diri bahwa masih banyak yang harus diperbaiki dalam diri seorang Niken. Meski demikian, saya bersyukur….kehangatan yang dibawa perasaan senang, optimis, dan tidak pantang menyerah mengikis perlahan rasa galau itu.

Orang sering berkomentar sinis jika melihat si A atau si B mendadak jadi baik dan santun pada saat Ramadhan saja… menjadi berbudi hanya pada saat berpuasa. Apakah mereka sudah melihat diri mereka sendiri? Saya tidak malu mengakui bahwa ya, bahkan saya pun tak jarang berbuat seperti itu. Yang terpenting adalah saya tahu saya akan berusaha berubah, meski terdengar klise, dan menjadi excuse yang selalu muncul ketika kelalaian itu muncul lagi. Toh, itu urusan saya dengan Tuhan saya… Tuhan yang Luar Biasa dan saya cintai….

So, saya rasa saya siap menyambut Ramadhan 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s