Long Weekend 1 di bulan Maret : Java Jazz

Kalau melihat kalender, bulan Maret 2009 salah satu bulan di mana kita bisa libur cukup banyak. Mulai dari tanggal 9 Maret yang merupakan Maulud Nabi Muhammad SAW, dan tanggal 26 Maret yang merupakan hari raya Nyepi (jatuh hari Kamis pula, jadi bisa ambil cuti di hari Jumat, yeeeeyyyy….). Dua long weekend ini jadi momen yang tepat bagi saya untuk melakukan sesuatu yang menyenangkan (dan mungkin berbau foya-foya? Aih…kita memang bangsa hedonis yah… *geleng-geleng kepala*).

Nah, untuk Long Weekend 1 alias minggu ini, yang libur 3 hari dari Sabtu sampe Senin, saya sudah punya rencana sendiri : Nonton Java Jazz Festival!!! Akhirnya, setelah ngempet-ngempet sejak pertama kali launching Java Jazz, saya berkesempatan juga menonton salah satu acara musik internasional yang diadakan oleh negara kita tercinta ini (cieehh…). Paling menyesal sih waktu ada Jamie Cullum. Nggak bisa nonton karena posisi masih di Surabaya dan lagi banyak-banyaknya tugas kampus plus tugas akhir, hiks….

Anyway, tentang Jazz sendiri, saya lumayan menyenangi aliran musik yang satu ini. Meski mungkin bukan penggemar Jazz sejati (saya mah mana tahu para pemusik kawakan Jazz… Taunya palingan cuma Manhattan Transfer, Sade, Sergio Mendez –>ini malah lebih ke arah Samba gitu..), tapi saya bisa menerima musik jenis ini ketika diputarkan di telinga saya kapan pun dan di mana pun. Mungkin ini pengaruh dari ayah saya yang hobi mendengarkan musik Jazz mulai dari saya bisa berdiri sendiri (alias TK) sampai saya kuliah. Jadi ada semacam doktrinasi akan musik Jazz di alam bawah sabar saya, hehehehe….

Wajar kalau akhirnya saya antusias menanti event ini, karena selain doktrinasi yang membuat saya menyukai jenis lagu ini, saya juga penasaran akan jenis jazz yang dimiliki oleh berbagai macam musisi. Itung-itung memperluas wawasan akan musik. Masa ndengerinnya pop melulu kan? :D

Oh, ya, satu lagi yang membuat saya antusias : adanya Jason Mraz di acara tersebut! Menurut saya sih dia tidak murni Jazz, tapi memang ada 1-2 lagu yang mungkin bisa dikategorikan sebagai Jazz Pop. Apalagi saya menyukai sebagian lagu-lagunya…jadi pas banget deh momen Java Jazz tahun ini *smile*

Jadi nggak sabar….

Gimana dengan long weekend yang lain? Hope you have a great time!!!!

Pic Spam.. (1)

Karena keterbatasan ide dan kosakata yang tepat untuk mengisi blog ini, maka akan ada post-post khusus yang bernama “Pic Spam.. “, yang isinya, tentu saja, bisa ditebak dari judulnya *nyengir*. Dan pada “Pic Spam..” yang pertama, tokoh yang mendapat kehormatan untuk dihambur-hamburkan gambarnya adalah…. *jreng jreng jereeeeng…………..*
Read the rest of this entry »

Favorite song (for now.. :P)

Saya lagi suka banget dengan lagunya Jason Mraz yang “Live High”. Nggak tahu kenapa, padahal biasanya saya agak males ndengerin lagu dengan tempo yang lambat… Tapi lagu ini emang enak sih. Coba aja… :P

==Live High==
by : Jason Mraz

I try to picture a girl
Through a looking glass
See her as a carbon atom
See her eyes and stare back at them
See that girl
As her own new world
Though a home is on the surface, she is still a universe

Glory God, oh God is peeking through the blinds
Are we all here standing naked
Taking guesses at the actual date and time
Oh my, justifying reasons why
Is an absolutely insane resolution to live by

Live high
Live mighty
Live righteously
Takin it easy
Live high, live mighty
Live righteously

Try to picture the man
To always have an open hand
See him as a giving tree
See him as matter
Matter fact he’s not a beast
No not the devil either
Always a good deed doer
And it’s laughter that we’re makin after all

The call of the wild is still an ordination why
And the order of the permeates
All our politics are too late
Oh my, the congregation in my mind
Is this assembly singing gratitude
Practicing their livin for you

Just take it easy
And celebrate the malleable reality
Nothing is ever as it seems
This life is but a dream

Java Jazz International 2009 (2)

Jadi, special show untuk Jason Mraz ternyata dibuat 2 hari : Jumat dan Sabtu. Saya, yang awalnya memutuskan untuk tidak menonton (karena awalnya memang hari Jumat, dan dengan load kerja yang sekarang… Yah, mana sempat nontonnya??) akhirnya terpaksa pikir-pikir lagi.
Cuma yang bikin saya berat itu harga tiketnya. 350ribu lagi untuk special show tersebut. Berattttttttt……….. Seseorang di kantor saya sempat menyindir, “Emang gaji kamu di sini ga cukup?”
Bukannya ga cukup, cuma keluar uang hampir 1 juta untuk menonton penyanyi luar negeri itu belum pernah saya lakukan. Catat, belum pernah!!! Saya yang termasuk orang rumahan dan jarang keluar-keluar, sekarang mempertimbangkan untuk merogoh kocek sebesar hampir 1 juta untuk menonton sebuah pertunjukan jazz…
Sebaiknya gimana yah? Jadi bingung…

Java Jazz Festival 2009 (1)

Yak, even jazz internasional yang diadakan tiap tahun kini kembali lagi!! Mengambil tanggal 6, 7 dan 8 Maret 2009; rasanya Java Jazz tahun ini akan sama berkesannya dengan Java Jazz sebelumnya (sok tahu banget..padahal belum pernah nonton…. T___T).

Dan karena saya memang belum pernah nonton, so pasti saya akan ambil bagian dalam Java Jazz Festival tahun ini!!! Jadi nggak sabar… Cuma yang masih menjadi ganjalan adalah : perlu nonton Jason Mraz ga ya???

Review : Red Cliff 2

Yak. Sabtu minggu lalu saya akhirnya menonton Red Cliff 2 di Bekasi. Tadinya saya berencana untuk menonton Burn After Reading, tapi kenyataannya film-film yang diputar di Bekasi kebanyakan masih film-film Indonesia nggak jelas dan beberapa film Barat tapi bergenre Horror. Dua pilihan yang sama-sama bukan merupakan pilihan untuk saya (artinya, kalo bisa, sebaiknya nonton film selain dua tipe itu. kalo terpaksa pun..mendingan gak nonton!!). Dan antara Quarantine serta Red Cliff 2, judul yang terakhir disebut resmi jadi pemenang :)

Saya belum menonton Red Cliff 1, jadi saya tidak dapat membayangkan seperti apa Red Cliff 2 sebelum saya masuk ke gedung Bioskop. Yang jelas filmnya tentang perang (informasi adik + teman saya), tapi seperti apa perangnya, nggak ada bayangan sama sekali (padahal kalo dipikir secara nalar ya pasti seperti film Cina lainnya yah…dasar aneh.. :P ).  Dan ternyata??? Saya menyukainya!

Cerita dibuka dengan kelanjutan pertarungan antara perdana menteri Cao Cao dengan Xiu Bei, Zhuge Liang, dan Zhou Yu (detil jelas mereka hubungannya seperti apa dan dari kerajaan mana nggak saya cantumin yah.. Karena saya sendiri bingung, hehehe…). Yang dapat saya tangkap bahwa si es Cao Cao (duh, namanya kaya nama minuman gitu sih..) adalah pemimpin wilayah yang kejam dan bersifat diktator, sehingga Xiu Bei, Zhuge Liang, dan Zhou Yu memutuskan untuk bangkit dan melawan kedzaliman si es Cao Cao itu.

Saya nggak akan membahas detil film, karena kalau diceritakan semua, Anda ga perlu nonton filmnya dong, hehehe.. Yang jelas faktor menonjol yang membuat saya jatuh hati pada film ini adalah strategi perang yang digunakan baik oleh Cao Cao, Zhuge Liang, ataupun Zhou Yu. Mereka harus pandai-pandai menentukan strategi apa yang akan mereka pakai, dengan mempertimbangkan strategi apa yang akan dipakai oleh lawan mereka. Menarik juga untuk melihat bahwa setiap pihak harus berani memutuskan apakah strategi lawan yang mereka baca benar adanya, atau sekedar penutup dari jebakan lain yang mungkin akan menghancurkan mereka.

Kesimpulannya : film ini asyik, dan patut ditonton. Bahkan bagi mereka yang nggak hobi nonton film perang (seperti saya), film ini tetap terasa menggigit dan sangat berkesan :)

Ritual Tahun Baru?

Tahun baru seringkali dirayakan dengan gegap gempita : pergi berpesta di Ancol, ikut main kembang api mulai dari kelas cekereme sampe yang harganya 2.5 juta, menonton rentetan penampilan band papan atas yang menghibur penonton semalam suntuk, makan malam mewah di restoran ataupun yang sekelas bakar-bakar rumah daging di belakang rumah (lumayan juga lho harga daging sekarang…). Maklum saja, orang telah mengidentikkan tahun baru dengan harapan baru, semangat baru, pokoknya sesuatu yang baru, segar, fresh. Maka wajar jika orang berpikiran bahwa, oh, kita memang harus merayakan tahun baru. Kita sebaiknya merayakan tahun baru. Atau mungkin, ada yang berpikir, kita wajib untuk berhura-hura di malam tahun baru. Orang pun berlomba untuk mengeluarkan kocek dalam rangka menyambut si “babe” tahun baru ini.

Tapi apa mereka sadar? Dengan tingkah mereka itu, banyak mata-mata di pinggir jalan yang cuma bisa menatap. Mereka, pemilik mata itu cuma bisa menggigit jari, berpikir, merasa iri.. ingin merasakan hal yang sama. Untuk mereka yang sedikit lebih beruntung, tidak mustahil mereka akan terpaksa berhutang atau menggadaikan sesuatu demi merayakan tahun baru ini. Siapa yang bisa menyalahkan? Mereka juga ingin bergembira. Masalah tidak bisa membayar atau dikejar-kejar rentenir… Bah! Itu sih urusan nanti. Yang penting senang-senang. Atau apa istilah sekarang? Emang Gue Pikirin!

Lalu untuk mereka yang lebih tidak beruntung? Apa yang bisa mereka lakukan? Menggadaikan sesuatu? Boro-boro.. Makan sehari-hari aja sulit. Berhutang? Siapa juga yang mau ngutangin orang yang bahkan makan sesuap nasi saja sulit? Mereka mengeluh, mereka meradang, mereka marah…dan akhirnya mereka berpikir; hei, itu kan sebenarnya hak kita juga! Hak orang miskin!! Uang yang mereka hamburkan itu sebagian milik kita! Kenapa nggak kita ambil kembali aja??

Dan terjadilah insiden-insiden itu…..DOR! BANG! BAM! AUCH! Mereka melukai saudara-saudara mereka. Mereka tega mengambil dengan paksa, bahkan sampai menghilangkan nyawa orang lain. Demi apa? Demi sejumput euforia tahun baru yang menggelegak di tengah sebuah malam, yang bahkan sebenarnya tak jauh berbeda dari malam-malam lainnya. Demi rasa bangga yang hanya bisa ditunjukkan dalam 1 hari saja, tidak lebih dari itu.

Kalau sudah begitu, apa ya masih pantas kita melakukan ritual tahun baru yang berlebihan? Yang menghambur-hamburkan uang tanpa memperhatikan perasaan saudara-saudara lainnya yang kekurangan? Mungkin ada baiknya kita mengkaji ulang apa yang sudah kita lakukan saat ini. Karena, yah….apa sih gunanya ritual itu kalo dipikir-pikir? Toh tahun baru sebenarnya cuma pengulangan tahun aja kan? Sebuah siklus yang terus berulang-ulang. Ya nggak?

Sakit tenggorokan…

Ya, sudah dua hari ini saya sakit tenggorokan. Awalnya sih nggak terasa, malahan sempat dipake nyanyi-nyanyi nggak karuan pas malam tahun baru (kita ngadain karaoke di rumah Bude di jatibening. Seru euy! Suara pas-pasan saya bisa terdengar ke seantero tetangga. Untung aja nggak ada yang nyambit rumah bude saya dengan sandal atau semacamnya.. :P ). Tapi begitu tanggal 1 pagi, saat mau sarapan, mulailah tenggorokan saya gatal. Dan selanjutnya bisa ditebak…. Echo suara dengan pronouncation : ”UHUK! UHUK!!” terdengar mulai pagi. Yap.  Batuk tercinta datang menghampiri saya dengan seluruh fiturnya.

Yang paling menyebalkan kalau kita mengalami radang tenggorokan adalah rasa gatal!! Gatal sekali di tenggorokan, sampe-sampe saya kepikiran untuk memasukkan penggaris ke tenggorokan dan menggaruk supaya rasa gatal itu sedikit berkurang (inget iklan Fisherman’s Woods? Jadi terasa masuk akal deh… :( Payah ah). Saya sudah minta FG Troches untuk menanggulangi sementara, tapi rasanya tidak ada perubahan berarti. Jadi pingin pulang cepet deh.. :(

Btw, saya di kantor lho. Dengan sistem SAP yang sedang mati. Dengan line produksi yang diliburkan. Dengan ruangan di mana cuma ada 5 orang nangkring selain saya. Bisa tebak seberapa produktifnya saya? ………….

*off to rant at room’s corner*

Happy New Year!!!

Kalau “tidak mengisi blog secara rutin” bisa dikategorikan sebagai “dosa”, berarti tingkat “dosa” milik saya pastilah sudah menggunung. Wajar saja, sudah berabad-abad nggak pernah mengupdate blog ini (hiks), nggak ada upaya pula untuk menaruh post apapun (meski mungkin post apapun bisa dikategorikan sebagai spam.. :P ).

Mumpung tahun baru… mumpung orang pada ribut bikin resolusi.. mungkin saya juga ikut-ikutan bikin resolusi ah, terutama terkait dengan blog ini. Dan tentu saja, resolusi nya adalah :

“LEBIH RAJIN MENGUPDATE BLOG SEPANJANG TAHUN 2009″

Gile..kaya tag iklan wajib belajar 9 tahun aja.. *tertawa ngakak*

Anyway, happy new year for everyone! Wishin you all the best! :D

Review film : Rescue Dawn

Ya ya ya, saya memang agak pemalas karena mengepost review yang sama dengan yang saya taruh di crappuccino, tapi yang namanya hak asasi penulis…. Jadi gapapa kan mau mengepost di mana saja, asal memang yang ditulisin asli blog punya saya… *ngeles mode ON* :P

Anyway, ini film terakhir yang saya tonton di bioskop (kesannya melas banget…). And here’s the review :

Judul : Rescue Dawn
Sutradara : Werner Herzog
Pemain : Christian Bale, Steve Zahn, etc
Tahun rilis : 2007

Ketika saya diajak nonton film ini, saya menyetujui saja karena pilihan lainnya hanya film Indonesia tidak jelas dengan judul yang semakin vulgar. Eh, ternyata begitu film dibuka, layar menunjukkan potongan-potongan pesawat tempur dan situasi peperangan di Vietnam. Saat itu juga saya sempat cemas, apa saya bakal menyukai film ini. Maklum saja, saya bukan penggemar berat film perang (kecuali Saving Private Ryan kali ya…itu pun saya merasa film itu cukup sadis). Ternyata, saya lumayan suka juga dengan film tersebut.

Cerita dibuka dengan terbangnya satu tim penerbang dengan tugas rahasia menghancurkan markas-markas Vietkong di negara Vietnam melalui Laos. Dengan latar belakang perang Vietnam, kita segera disuguhi kemuraman yang terjadi pada sebuah perang. Dieter Dengler (Christian Bale), salah seorang penerbang, tidak beruntung karena pesawatnya terkena tembakan, dan dia terpaksa mendarat darurat (atau jatuh bebas yah tepatnya?) di pertengahan sawah di Laos. Segera saja dia menjadi tawanan para militan, dan sama seperti tawanan perang lainnya, tentu saja dia mendapat siksaan dari para penyanderanya.

Dieter kemudian dipenjarakan di sebuah gubuk yang terletak di tengah hutan belantara yang lebat (dan sedikit banyak mengingatkan saya pada hutan-hutan di Kalimantan). Di sana, dia bertemu dengan beberapa rekan senasib. Beberapa penerbang pesawat logistik ternyata juga tidak beruntung dan menjadi tawanan para militan di Laos selama kurang lebih 2 tahun (ada Gene, YC, Procet dan Phisit). Ada juga Duane, penerbang AU USA yang juga sudah ditahan sekitar 1.5 tahun.
Meski “teman-teman” barunya terus menyarankan agar Dieter tidak berbuat yang aneh-aneh, toh penderitaan menjadi seorang tawanan cukup mendorong Dieter untuk berencana kabur dari penjara di tengah hutan tersebut. Lalu berhasilkah Dieter kabur bersama yang lain? Mungkinkah mereka melarikan diri dari para militan bersenjata dan bebas dari hutan yang menyesatkan tersebut?

Ada beberapa poin yang terus berkelebat di pikiran saya selama menonton film ini. Pertama, penyandera tawanan perang akan selalu menyiksa para tawananannya (pernyataan yang cukup bodoh  karena itu kan sebenarnya sesuatu yang wajar terjadi, mengingat mereka menganggap diri mereka sebagai korban, dan siapapun yang menjadi musuh mereka harus menderita). Hal itu membawa saya ke pemikiran selanjutnya : Jika kita tidak mau diperlakukan demikian (dalam hal ini mereka sebagai tentara Amerika sih), maka seharusnya kita tidak memperlakukan orang lain seperti itu (dan ini kembali mengacu kepada Amerika Serikat yang hobi perang). Kesimpulannya : Perang itu nggak ada gunanya! Nggak pernah ada, dan nggak akan ada. Seharusnya dari film-film semacam ini, kita makin menyadari bahwa membunuh bangsa lain, ras lain, atau siapapun yang kita anggap “musuh”, tidak akan pernah berdampak baik bagi semua pihak.

Tentunya, selain pemikiran serius itu, saya juga memikirkan hal-hal yang lebih enteng, seperti, Christian Bale yang jadi kurus banget. Busyet dah, dia nurunin berapa kg ya? Saya sampe iri….program pengurusan badan saya masih jalan pelan-pelan sih, hehehe…

Secara karakter, tidak ada karakter yang sangat menonjol dalam film ini. Si tokoh utama, Dieter pun tidak terlalu masuk ke dalam hati saya, meski upayanya untuk survive dalam kondisi apapun patut diacungi jempol (katanya sih dari kisah nyata).

Overall, film ini lumayan untuk ditonton, khususnya buat para pecinta film perang. Buat yang tidak suka film perang, mungkin harus pikir-pikir dulu sebelum memutuskan menonton

X-posted in crappuccino

« Previous entries Next Page » Next Page »