Setelah meeting awal tahun di Filipina…

…saya kembali ke Jakarta dengan informasi baru, hubungan yang lebih kuat dengan rekan-rekan di sana dan motivasi baru untuk bekerja. Bertemu dengan orang-orang yang selama ini hanya bisa saya hubungi lewat telepon ataupun email ternyata memberikan suasana baru yang sama sekali berbeda. Saya merasa saya bertemu dengan teman-teman dekat yang sudah lama sekali tidak saya temui. Padahal, hanpir semuanya baru saya temui kemarin. Mungkin karena seringnya saya berkomunikasi dengan mereka, kami bisa langsung nyambung ketika bertemu *uhuk* :P

Saya ingat tahun lalu saya menghadiri meeting serupa di Surabaya, tepat ketika saya baru bergabung sekitar 6 bulan di kantor saya yang sekarang ini. Namanya juga baru 6 bulan bekerja dengan pemahaman secukupnya, saya waktu itu lebih sering “lolak lolok” alias bingung dengan berbagai istilah dan ulasan yang dipresentasikan kala itu. Sekarang, setahun kemudian saya berada di meeting yang serupa dengan pemahaman yang lebih dalam dan justru berperan memberikan informasi pada partner-partner saya yang baru. Tak urung saya bersyukur dan merenung betapa waktu berlalu dengan cepat dan membawa saya ke posisi yang berbeda dengan sebelumnya.

Jujur, selama saya meeting kemarin, saya banyak berpikir tentang masa depan. Mungkin karena saya bertemu dengan teman-teman baru saya dengan posisi mereka masing-masing. Mungkin juga karena informasi-informasi yang saya dapatkan selama meeting berlangsung. Tak serius memang, tapi pergulatan pikiran mengenai langkah apa yang akan saya ambil 2 – 3 tahun ke depan melintas dan mau tak mau saya terkesiap. Rupanya saya belum sesiap itu menyiapkan masa depan saya. Saya tahu ada satu, dua bahkan mungkin lima tujuan hidup  utama yang ingin saya capai, tidak hanya untuk saya,namun juga untuk keluarga saya. Tapi kapan dan bagaimana saya mencapainya, itu belum terpikirkan secara mendetail.

Lucu juga bagaimana meeting seminggu di Filipina bisa membawa saya berpikir sedalam itu, dan saya bahkan tidak sempat berpikir tentang pekerjaan saya minggu ini! (mengingat saya seorang semi-workaholic, itu terdengar sedikit aneh :P ). Toh saya bersyukur mendapat kesempatan untuk mengikuti meeting tersebut. Tidak hanya mendapatkan pengetahuan lebih, saya mengenal lebih dekat rekan-rekan saya di sana dan bisa dikatakan mendapatkan “teman” baru. Dan semangat baru untuk menentukan masa depan saya sendiri, that’s one of the greatest parts :)

Tentang malam tahun baru

Dari tahun ke tahun, bisa dikatakan saya hampir tidak pernah merayakan tahun baru (kecuali tahun lalu ketika saya diundang teman kantor ke rumahnya). Kebetulan keluarga saya tidak membiasakan saya dan adik-adik saya untuk berpesta atau ber-’hedon’ ria di malam pergantian tahun karena sebenarnya memang hal itu tidak penting dan tidak menambah nilai apapun. Seringnya kami tinggal di rumah, menonton TV, ngobrol, mungkin makan enak ataupun ngeblog (yang terakhir ini sih niat saya malam ini :P ).

Jadi ketika siang ini saya kebetulan melihat ramainya orang memenuhi salon untuk persiapan malam tahun baru, mau tak mau terpikir juga oleh saya; apa saja yang dilakukan orang-orang (khususnya Jakarta) di malam tahun baru. Tentu, berpesta adalah pilihan utama hampir semua orang. Pergi ke luar kota (mungkin untuk berpesta juga?) sepertinya menjadi favorit kedua melihat kemacetan ke arah Puncak atau Bandung seperti yang diberitakan di TV. Ada juga yang memilih hanya berkumpul bersama keluarga seperti yang umumnya keluarga saya lakukan.

Yang sedikit membuat penasaran, ada nggak ya orang yang menghabiskan malam tahun baru dengan saudara-saudara kita yang kekurangan? Entah ke panti asuhan untuk makan bersama, atau sekedar berbagi rejeki dengan anak-anak yang berkeliaran di jalanan. Saya rasa pasti ada, hanya mungkin jumlahnya sangat sedikit dibandingkan mereka yang ber’hedon’ ria di kota.

Bukan maksud saya untuk menghakimi atau berkata bahwa cara yang satu lebih baik dari yang lain, karena hey, itu pilihan kita sendiri kan? Mungkin yang ingin saya tekankan adalah tidak perlunya mengidentikkan tahun baru dengan perayaan yang berlebihan, atau mengidentikkan malam tahun baru dengan pesta. Tahun baru ya tahun baru. Tahun di mana tantangan baru muncul, dan akan mendorong kita menjadi pribadi yang harapannya, lebih baik.

Jadi, apa yang Anda lakukan di malam tahun baru ini? Yang manapun, semoga Anda menikmatinya ya :)

Tentang Resolusi 2012

Apa cuma saya saja yang merasa tahun 2011 berjalan cepat, atau hampir semua orang merasakan hal yang sama? Sepertinya baru minggu kemarin saya membuat resolusi 2011 saya, dan tahu-tahu saja tahun 2012 sudah mengintip di depan sana (ya, kamu! Tahun 2012 yang sudah menyiapkan banyak tantangan buat saya!). Mau tak mau saya tergelitik untuk melihat apakah saya berhasil melakukan hal-hal yang saya niatkan di awal 2011 kemarin. Hmm… mari cek!

  • Memperbaiki ibadah, khususnya kualitas hubungan dengan Allah SWT >> Jujur, saya speechless. Rasanya belum ada perbaikan kualitas sampai sekarang… memalukan sebenarnya kalau diingat :(
  • Improve time management (kerja, hidup, keluarga…) >> saya bisa bilang, ada improvement meski tak banyak..
  • Menjadi lebih proaktif, baik dalam pekerjaan maupun kehidupan sehari-hari >> masih bisa lebih proaktif..
  • Nurunin BB 5 KG >> Pret!
  • Nyelesaiin 5 cerpen! >> 2 cerpen super pendek di tangan :)
  • Minimal dapet 6 foto untuk diupload di fotografer.net >> 2 foto berhasil diupload
  • Pake kawat gigi >> Check! Setidaknya resolusi yang bertahan selama 3 tahun di list saya ini bisa dicoret! :)
  • Belajar bahasa Jepang (lagi…) >> nyantol di pembelajaran hiragana lagi :/

Jelaslah kalau resolusi 2011 saya tidak semuanya tercapai, sama seperti resolusi saya di tahun-tahun sebelumnya. Dan mungkin sama seperti tahun-tahun sebelumnya juga, resolusi ini akan bertahan di daftar saya untuk tahun selanjutnya, dan selanjutnya, dan selanjutnya….. Kenyataan yang membuat saya bertanya-tanya akan komitmen saya pada diri saya sendiri *garuk-garuk kepala*.

Sebenarnya kalau dipikir-pikir, pembuatan resolusi tahun baru tidak segitunya penting. Kalau kita memang mau berubah menjadi lebih baik, kita bisa lakukan kapan pun kita mau, tanpa perlu menunggu waktu tertentu. Tapi kadang (atau seringkali?) orang merasa kesulitan menemukan waktu yang “pas” untuk melakukan perubahan itu. Selalu ada yang kurang tepat, entah karena belum waktunya-lah, terlalu sibuk-lah, terlalu capek-lah…. Sehingga terbersit kesimpulan lucu di benak saya: tidak akan pernah ada waktu yang tepat untuk berubah! Kecuali, tentunya, ketika kita sudah memutuskan untuk berubah saat itu juga dan mengimplementasikannya dengan tindakan! :)

Tentu, itu tidak selalu mudah. Lebih banyak orang yang menyerah kepada alasan-alasannya untuk tidak berubah, daripada “berkorban” dan meluangkan waktunya untuk memulai perubahan itu. Saya sendiri cenderung suka menunda-nunda perubahan yang saya rencanakan sendiri (!), dan padahal perubahan itu untuk membuat saya menjadi lebih baik (yah, tentu tidak ada gunanya jika perubahan itu membawa kita ke arah lebih buruk… :P ). Tak heran, resolusi tahun baru selalu menjadi kesempatan yang saya pergunakan untuk mencambuk diri saya untuk berubah menjadi lebih baik.

Dan dengan semangat itu, saya pun mencanangkan resolusi 2012 saya, yang pada dasarnya merupakan resolusi 2011 saya yang belum tercapai *uhuk*: memperbaiki ibadah, khususnya kualitas hubungan dengan Allah SWT, improve time management and work management, ditambah proaktif dalam bertindak. Mungkin yang sedikit membedakan adalah adanya tambahan resolusi *uhuk lagi* yaitu belajar bahasa Perancis dan pergi ke Kupang untuk berlibur bersama adik saya. Bagaimanakah nasib resolusi 2012 ini? Kita lihat nanti di akhir tahun 2012 yah :)

Lovely weekend with family.. priceless! :)

Judul tulisan saya kali ini bisa jadi dirasakan oleh banyak orang, khususnya mereka yang tinggal di ibukota dan memiliki pekerjaan yang menyita sebagian besar waktu mereka dalam hidup. Ketika Anda sudah menyatu dengan ritme kota besar yang seolah-olah hanya berurusan dengan kerja seperti deadline, melayani customer, berkomunikasi dengan supplier dan bla-bla-bla lainnya, waktu kosong di akhir pekan yang dapat dihabiskan bersama dengan keluarga adalah kenikmatan tak terkira. Agak lucu juga sebenarnya kalau dipikir-pikir, karena toh kita yang mengendalikan hidup kita dan itu artinya kitalah yang memutuskan untuk bekerja membanting tulang setiap harinya.

Mengesampingkan soal pilihan akan pekerjaan, saya akui saya termasuk semi-workaholic. Saya suka bekerja, meski tidak tergila-gila akan pekerjaan itu sendiri. Mungkin karena saat ini saya melakukan apa yang saya suka, sehingga meski kadang pulang malam (eh..kadang?), saya tidak terlalu merasa keberatan karenanya. Di saat yang lain, ketika saya merasa sedang tidak maksimal dalam bekerja, maka saya juga akan pulang on-time dan meneruskan pekerjaan itu keesokan harinya. Toh, bukan sekali dua kali saya merasa sedikit jenuh dan mungkin sedikit sedih karena saya tidak bisa berkumpul dengan keluarga saya, apalagi karena keluarga saya tinggal berjauhan dengan saya (ayah saya di Bekasi, ibu dan adik terkecil saya di Surabaya, sedangkan adik saya yang lain di Kupang).

Maka ketika saya bisa mengajukan cuti pada tanggal 22 dan 23 Desember kemarin dan menghabiskan waktu 4 hari dengan keluarga, jujur saya merasa senang dan bahagia. Kebetulan ibu dan adik saya berkunjung ke Jakarta, sehingga kami memutuskan untuk mengisi waktu dengan berkeliling Jakarta, atau tepatnya mal-mal di Jakarta , hihi :P

Tentu, kegiatan kami tidaklah “wow” seperti yang dilakukan keluarga lain, seperti berlibur ke luar kota atau luar negeri. Tapi memiliki waktu untuk berjalan bersama, berburu pakaian ataupun makan siang, saling bercerita tentang apa saja yang telah dilakukan dan dialami selama beberapa bulan belakangan, buat saya terasa menyenangkan dan menghangatkan perasaan. Saya bisa bertukar cerita dengan adik-adik saya, berbagi pendapat tentang masalah yang dimiliki satu sama lain dan sedikit demi sedikit memahami lebih dalam karakter mereka. Saya juga bisa bertemu dengan orang tua saya yang kembali mengingatkan saya untuk selalu memegang teguh ajaran agama dan menjaga kehormatan diri dan keluarga. Bertemu ibu saya juga terasa manis karena saya biasanya hanya bisa bertemu dengannya cuma pada saat Lebaran.

Buat saya, minggu kemarin adalah salah satu minggu paling menyenangkan yang pernah saya alami, khususnya karena saya bersama keluarga saya. It’s priceless and I just can’t wait already for other weekends with them in a short time  :)

Movie Review : “Sherlock Holmes: A Game of Shadows”

Judul Film : Sherlock Holmes: A Game of Shadows
Sutradara : Guy Ritchie
Pemain : Robert Downey Jr., Jude Law, Jared Harris
Tahun : 2011

Saya ingat tahun lalu ketika saya pertama kali menonton Sherlock Holmes di layar lebar. Setelah sebelumnya sempat bertanya-tanya apakah saya akan menyukai filmnya sebanyak saya menyukai novelnya, saya bisa katakan bahwa saya keluar bioskop dengan perasaan puas. Ramuan segalanya terasa pas, baik dari plot, karakter-karakter utama dan sampingannya, serta humor kecil di sana sini yang menambah kesegaran film. Di film Sherlock Holmes yang kedua ini, saya mengharapkan hasil yang kurang lebih sama dengan film pertama. Dan ternyata, saya mendapatkannya lagi :)

Sherlock Holmes: A Game of Shadows masih berkutat soal pertarungan antara Sherlock Holmes (Robert Downey Jr.) dan Prof. James Moriarty (Jared Harris). Jika di film pertamanya kita tidak diberi kejelasan mengenai musuh utama detektif kita, di film kedua ini kita akan mendapat lebih banyak informasi mengenai Moriarty. Yang jelas kita akan tahu bagaimana rupa sesungguhnya dari Moriarty, dan yang menarik, karakter dari Moriarty itu sendiri. Sayang, menurut saya penggalian karakter Moriarty sedikit kurang dalam. Sebagai salah satu antagonis terbesar yang pernah saya ketahui, saya rasa ia memiliki hak untuk dieksplore lebih dalam, sebanyak eksplorasi terhadap Sherlock Holmes ataupun John Watson. Mungkin di film ketiganya ia akan mendapat kesempatan itu (semoga saja ada sih.. :P ). Yang mungkin membuat saya juga kurang merasakan greget dari Moriarty adalah akting dari Jared Harris sendiri. Bagi saya, Jared memerankan Moriarty dengan agak “nanggung”, seolah ada sesuatu yang ditahan untuk dilepaskan. Mungkin kalau Jared bisa sedikit lebih lepas, saya akan bisa merasakan karakter Moriarty dengan lebih mendalam.

Plot film kali ini cukup menggelitik, kurang lebih mirip dengan film yang pertama. Meski mungkin misteri yang diceritakan tidak rumit dan cukup sederhana, toh keseluruhan cerita tetap menarik dan  bisa membuat saya duduk anteng hingga film selesai. Sejak film pertama, saya sudah menyadari bahwa Sherlock Holmes layar lebar lebih berfokus pada mistery and action, bukan hanya mistery. Jadi dengan kesadaran penuh akan komposisi itu sejak awal, saya bisa katakan bahwa ramuan cerita kali ini juga tergolong pas buat saya.

Selain plot yang cukup menarik, hal yang membuat saya senang menonton sekuel Sherlock Holmes ini adalah karakter-karakter utamanya (tentu saja) dan hubungan antara kedua tokoh itu sendiri. Lagi-lagi buat saya, Robert Downey Jr. dan Jude Law memberikan chemistry yang kuat dan menyenangkan sebagai Sherlock Holmes dan John Watson. Ada love-hate relationship  yang selalu muncul di sepanjang film khususnya di dalam perdebatan atau pertengkaran mereka, dan sukses membuat saya tertawa senang. Irene Adler, karakter yang saya sukai di film pertama, kembali muncul meski tidak sekuat sebelumnya. Saya agak sedih juga sih, karena saya sejak awal terkagum-kagum pada Rachel McAdams yang mempesona saya sebagai Irene.

Beberapa karakter baru muncul di film ini, seperti Mycroft Holmes (Stephen Fry) dan Simza (Noomi Rapace). Fry jelas bisa menampilkan Mycroft dengan menyenangkan, meski sedikit agak terlalu nyentrik buat saya. Sedangkan Noomi memerankan Simza dengan biasa saja, sebagaimana seharusnya sebuah karakter sampingan. Yang agak menarik buat saya adalah Sebastian Moran yang merupakan seorang mantan perwira dan menjadi tangan kanan Moriarty (diperankan oleh Paul Anderson). Entah kenapa buat saya tokoh ini menarik dan berpotensi menjadi lebih dominan dari Moriarty sendiri.

Hal lain yang membuat saya jatuh cinta sepenuhnya dengan film ini adalah sinematografi, spesial efek dan musik latarnya. Saya suka bagaimana Guy Ritchie menciptakan estimasi kejadian oleh Sherlock Holmes di beberapa perkelahian dan kemudian menjadikannya implementasi yang tidak sepenuhnya akurat. Ia seolah menunjukkan bagaimana rencana dan aktualisasi tidak selalu berjalan seirama atau sesuai yang diharapkan. Saya juga sangat suka efek slow motion  yang muncul di beberapa scenes. Saya ingat ada slow motion yang berhubungan dengan ledakan di film kedua ini, yang kurang lebih mengingatkan saya pada adegan serupa di film pertama. Efek tersebut sukses membuat saya berdecak kagum dan berseru, “Wow!”, ketika menontonnya.

Secara keseluruhan, Sherlock Holmes: A Game of Shadows adalah film yang menyenangkan buat ditonton. Plot yang cukup menarik, karakter yang menyenangkan, humor yang terselip di sana sini serta visualisasi yang menyegarkan adalah bahan utama yang bisa Anda harapkan ketika pergi ke bioskop dan menonton film ini. Saya menyukainya, dan kini bertanya-tanya, bagaimanakah sekuel selanjutnya akan dibuat. Eh, apakah ada sekuelnya? Kita lihat saja nanti :)

Movie Review: “The Help”

Judul Film : The Help
Sutradara : Tate Taylor
Pemain : Emma Stone, Viola Davis, Octavia Spencer 
Tahun : 2011

Film mengenai rasisme selalu menarik untuk ditonton, meski seringkali berakhir menyedihkan dan menyayat hati. Setiap kali menonton sebuah film bercerita mengenai sejarah diskriminasi di masa lalu (khususnya terhadap warga Afrika-Amerika, karena itu yang selalu diekspos oleh Hollywood), mau tak mau saya mengelus dada dan menyadari bahwa manusia itu bisa menjadi sangat kejam terhadap manusia lain hanya karena alasan sederhana dan bodoh. Dan bukan tidak mungkin hal itu masih terjadi di jaman modern ini, meski mungkin tidak terekspos besar-besaran seperti sebelumnya.

The Help bercerita tentang kumpulan para pembantu kulit hitam di tahun 50-an yang sering dipanggil The Help (sejelas judul film ini). Seperti yang bisa kita duga dari sebuah film yang bertemakan rasisme, di film ini kita akan melihat perlakuan tidak adil yang diterima oleh para wanita kulit hitam tersebut dari majikan mereka ataupun orang kulit putih lainnya. Tidak ada satupun dari mereka yang berani berbicara tentang ketidakadilan yang mereka terima sebagai orang berkulit hitam (atau kulit berwarna) sampai seorang wanita pemberani bernama Aibileen (Viola Davis) berani mengungkapkan ceritanya kepada seorang jurnalis amatir berkulit putih, Skeeter (Emma Stone).

Saya harus mangacungkan dua jempol kepada Viola Davis yang memainkan perannya sebagai Aibileen dengan memukau. Saya percaya sepenuhnya dengan apa yang dia ceritakan dan saya bisa merasakan kegetiran yang ia tampilkan meski tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya bertahan dari segala hinaan dan tindakan merendahkan martabat setiap harinya. Aibileen jelas menjadi bintang utama film ini buat saya, dan dia mewakili suara semua orang dengan kulit berwarna yang menjadi korban rasisme di US. “Suara” Aibileen paling tidak mengingatkan lagi bahwa rasisme pernah terjadi dan (sangat mungkin) masih terjadi. Dan sudah sepantasnya setiap orang melakukan apa yang bisa dilakukan untuk membantu para korban rasisme itu jika mereka mengetahui tindakan rasis tersebut.

Meski topik rasisme sering diangkat secara khusus ke film layar lebar dengan tujuan baik yaitu menginformasikan betapa terkutuknya rasisme itu, toh masih banyak film-film Hollywood lain yang justru menunjukkan terang-terangan rasisme itu. Contoh yang gampang ditemui adalah film-film action di mana penjahatnya adalah orang berkebangsaan Arab bernama ”Mohammad” atau “Ahmed”, ataupun orang Russia bernama “Sergei” atau “Vladimir”. Lalu mana semangat anti rasisme yang mereka gembar-gemborkan selama ini? Apakah hanya terbatas pada warga Afrika-Amerika saja?

Terlepas dari pendapat pribadi saya mengenai bagaimana rasisme dalam film besutan Hollywood, saya harus bilang The Help adalah tontonan yang cukup indah dan menyegarkan. Kesedihan memang tampak dari film ini, namun berhasil diimbangi dengan suatu sikap positif yang menenangkan. Film ini cocok untuk ditonton sebagai film keluarga atau bersama teman, karena saya yakin, kita akan lebih menghargai orang-orang di sekitar kita setelah menontonnya :)

Movie Review: “Mission Impossible – Ghost Protocol”

Judul Film : Mission Impossible – Ghost Protocol
Sutradara : Brad Bird
Pemain : Tom Cruise, Simon Pegg, Jeremy Renner, Paula Patton
Tahun : 2011

Saya selalu suka film action, dengan catatan film tersebut tidak mengumbar pembunuhan sadistis nan norak yang bisa membuat orang mual (seperti The Expendables yang sukses membuat saya malas makan sesudah menonton). Karena itu ketika saya iseng-iseng browsing film apa yang sedang diputar minggu ini dan menemukan bahwa Mission Impossible terbaru sudah diputar di bioskop, spontan saya membeli tiket dan ngacir sendirian untuk menonton kakang Tom Cruise beraksi meski saya belum menonton seri Mission Impossible sebelumnya.

Film dibuka dengan upaya pembebasan Ethan Hunt (Tom Cruise) dari penjara oleh Benji (Simon Pegg) dan Jane Carter (Paula Patton). Jane, yang merupakan wajah baru bagi Ethan, adalah pimpinan proyek perampasan kode rahasia nuklir Russia di mana salah satu agen bawahannya, Hathaway, terbunuh oleh pembunuh bayaran bernama Moreau. Hilangnya kode itu memicu kekhawatiran IMF dan pemerintah US akan kemungkinan rencana peledakan nuklir oleh Cobalt, buronan yang sudah lama dicari. Adalah misi Ethan kali ini untuk mendobrak masuk Kremlin dan mendapatkan informasi mengenai nuklir tersebut dan mengidentifikasi keberadaan Cobalt.

Sayangnya, saat misi berlangsung, seseorang tak dikenal membajak saluran komunikasi tim Ethan dan membuat pasukan tentara Russia sadar akan keberadaan mereka. Hal itu diperparah dengan ledakan besar yang menghancurkan Kremlin, dan jelas menjadikan Ethan beserta timnya sebagai tersangka utama. Ledakan Kremlin ini belakangan juga diketahui menjadi samaran dari proses pencurian alat kendali nuklir oleh Cobalt. Meski Ethan, Benji dan Jane berhasil lolos dari kejaran pasukan Russia, mereka harus menghadapi kenyataan pahit bahwa tidak ada seorang pun yang akan mendukung mereka. Presiden US memutuskan untuk melaksanakan Ghost Protocol, yang intinya merupakan penyangkalan akan keberadaan IMF. Mereka harus berjuang sendiri tanpa bantuan dari manapun, dan jika salah satu dari mereka tertangkap atau terbunuh, pemerintah US tidak akan mengakui mereka.

Dengan bantuan dari William Brandt (Jeremy Renner), analis intelijen IMF yang merupakan mantan agen, Ethan berhasil mengidentifikasi bahwa identitas Cobalt yang sebenarnya adalah Kurt Hendricks, seorang ahli nuklir yang percaya bahwa perang nuklir adalah salah satu cara untuk memulai lagi evolusi manusia di dunia (yeah, what an idea, psycho man…). Untuk melaksanakan niatnya, salah satu yang ia butuhkan adalah kode rahasia nuklir yang berada di tangan Moreau. Ethan pun merencanakan untuk mencuri kode tersebut di tengah transaksi yang akan dilakukan di Dubai antara Moreau dan Hendricks.

Lalu bagaimanakah rencana Ethan dan timnya berjalan? Akankah mereka berhasil menghentikan Cobalt alias Hendrick dari rencana besarnya memulai perang nuklir? Akankah Jane, yang menaruh dendam pada Moreau karena membunuh bawahannya, berhasil menuntaskan dendamnya ? Dan kenapa Anil Kapoor si bintang Bollywood ikutan nongol di film ini? (yang jelas bukan buat nari India kok :P )

Kesan yang terlintas begitu saya selesai menonton film ini adalah seru! Saya merasakan betul ketegangan yang terjalin di setiap bagian cerita dan saya menikmatinya. Tindakan heroik yang dilakukan di beberapa adegan mungkin terlihat sedikit ekstrim, tapi masih masuk akal buat saya. Yang jelas, saya terus berteriak sendiri (karena emang nonton sendirian) selama menontonnya. Acungan jempol harus saya berikan kepada kakang Tom Cruise, karena setahu saya dia melakukan sendiri semua adegan action-nya tanpa stuntman (entah kalau saya salah dengar info…). Dengan usia yang makin bertambah, toh si kakang tetap terlihat sigap berlaga dan juga ganteng :P

Untuk plotnya sendiri, saya bisa bilang so-so alias lumayanlah. Tidak terlalu banyak intrik, alurnya cukup jelas dimengerti dan tidak ada kejutan-kejutan yang mungkin kita harapkan dari sebuah film petualangan bermisi. Toh karena ketegangan dan keseruan yang terbangun cukup intens buat saya, hal ini menjadi hal minor dan termaafkan. Sedangkan untuk karakternya, saya rasa saya harus bilang lumayan juga. Tom Cruise bermain cukup bagus sebagai Ethan Hunt dan saya cukup menyukainya.  Paula Patton dan Jeremy Renner buat saya bermain aman untuk karakter mereka, tidak ada sesuatu yang sangat spesial dari itu. Simon Pegg, as much as I love him, played his role ”okay ” as Benji and I couldn’t protest more. Toh dia memang jatahnya pemain pendukung, jadi apa mau dikata :)

Secara keseluruhan, Mission Impossible – Ghost Protocol adalah film yang seru dan menyenangkan untuk ditonton. Buat Anda yang menyukai film action atau mungkin penggemar kakang Tom Cruise, MI4 akan sayang jika Anda lewatkan. Salah satu film yang cukup memuaskan untuk menutup tahun 2011 :)

Gampangnya merasa iri!

Awalnya sederhana saja. Teman kantor saya, sebut saja X (seperti penamaan tersangka di koran, hihi :P ) kebetulan bercerita bagaimana ia diberi sebuah tas travelling oleh big boss kami sepulang dari acara di luar Jakarta. Alasannya karena si X itu sering berpergian (memang benar sih), sehingga tas itu akan lebih berguna untuknya daripada big boss saya. Dengan tujuan bercanda, secara tidak langsung si X menyampaikan betapa beruntungnya dia untuk memiliki pekerjaan yang membuatnya banyak travelling, dan ternyata, juga diperhatikan big boss.

Seperti bisa diduga, hanya butuh sepersekian menit untuk saya tiba-tiba merasa iri dan cemburu. Saya kemudian membandingkan keadaan si X dengan keadaan saya dan saya melihat perbedaan-perbedaan yang, menurut saya tentunya, tidak menguntungkan bagi saya. Saya merasa saya seharusnya bisa mendapatkan apa yang sama, bahkan lebih dari si X. Tak ayal saya mulai mengeluh dan berkeluh kesah dalam hati.

Lalu saya terkesiap. Menyadari apa yang baru saya lakukan, tidak bisa tidak, saya menggelengkan kepala keras-keras, lebih karena malu. Betapa mudahnya saya merasa iri atas keberhasilan orang lain tanpa mengingat apa yang telah saya miliki dan raih selama ini! Bukannya terus bersyukur dengan apa yang saya miliki, saya malah ingin sesuatu yang lain, yang bahkan saya sendiri belum tentu butuh. Padahal jika saya memperluas sedikit saja pandangan saya, tidak hanya ke teman-teman yang lebih beruntung dari saya, namun juga ke teman-teman yang mungkin tidak seberuntung saya, tentu rasa iri itu tidak akan sempat berkembang sedikit pun, karena begitu banyak yang bisa kita syukuri.

Tentu, tidak iri akan keberhasilan orang lain bukan berarti kita pasrah dengan apa yang kita miliki sekarang. Kita semua memiliki cita-cita yang ingin kita raih, dan kewajiban kita untuk bekerja sebaik mungkin dalam mencapainya. Yang perlu diingat, jangan sampai cita-cita kita didikte oleh kecemburuan kita terhadap apa yang orang lain miliki, namun memang berdasar apa yang kita butuhkan atau impikan di masa yang akan datang. Iri sejatinya adalah hal yang wajar terjadi karena kita manusia. Bagaimana kita mengelolanya, itulah yang membedakan kita dengan yang lain. Semoga saya bisa tetap mengelolanya dengan sikap positif yah, aminnn :)

Ketika harus memilih

Saya baru keluar dari kantor di suatu malam ketika angin berhembus kencang dan membuat saya terpaksa mengeratkan jaket saya kuat-kuat sembari mencari ojek untuk pulang ke kos. Terbersit pilihan di benak saya, apakah saya harus menggunakan taksi karena kemungkinan akan hujan? Atau tetapkah saya menggunakan ojek karena toh jarak ke kos saya tidak jauh. Pada akhirnya, seperti mungkin bisa Anda tebak, saya justru pulang jalan kaki karena tidak menemukan ojek ataupun taksi akibat terlalu banyak pertimbangan.

Kejadian sederhana itu sebenarnya menunjukkan pentingnya mengambil keputusan yang tepat di waktu yang tepat pula. Kalau saja saya segera mengambil keputusan untuk naik ojek katakanlah, 5 menit lebih awal, mungkin saya tidak perlu pulang jalan kaki. Hidup menyediakan pilihan di depan mata kita, dan tinggal bagaimana kita menentukan pilihan mana yang akan kita ambil, tentunya dengan timing yang tepat.

Namun kemudian terbersit pertanyaan, bagaimana kita tahu bahwa keputusan yang kita ambil atau pilih adalah yang terbaik? Bagaimana kita yakin bahwa apa yang tidak kita pilih justru adalah pilihan yang justru lebih baik dari apa yang kita miliki sekarang? Buat saya saat ini, jawabannya sederhana saja: kita tidak akan pernah tahu, sampai kita memilihnya. Apapun yang saya pilih, saya harus sadar apa akibat yang akan saya terima, baik atau buruk. Setiap pilihan adalah resiko, dan setiap kali Anda memilih, Anda harus siap dengan resiko pilihan tersebut.

Tidak mudah memang untuk melakukannya. Terbukti, ketika terbentang satu,dua tawaran menggiurkan di depan saya, dan kemudian saya memilih untuk melepaskannya, ada rasa penasaran berlebih dan sesal yang sempat merasuk. Tapi hey, bukankah saya sendiri yang mengatakan bahwa semua pilihan adalah tanggung jawab saya pribadi dan saya sudah harus sadar akan resikonya? Dengan berpikir demikian, sedikit galau di hati pun berkurang, dan saya bisa lebih ikhlas menerimanya.

Ketika harus memilih, tidak selalu mudah, tapi dengan keyakinan dan keikhlasan, insya Allah akan berbuah manis untuk kita. Amin :)

Movie review: Puss in Boots (2011)

Judul : Puss in Boots
Sutradara : Chris Miller
Stars : Antonio Banderas, Salma Hayek, Zach Galifianakis
Tahun : 2011

Saya bukan penggemar berat animasi, meski saya bisa menikmati hampir semua film animasi yang saya tonton. Tentu, ada beberapa animasi yang menurut saya terlalu klise (tidak bisa saya salahkan juga… topik sederhana akan lebih mudah dimengerti anak-anak kan?), tapi beberapa yang lain cukup cerdas serta menghibur, sehingga saya sama sekali tidak merasa menyesal sudah menontonnya. Puss in Boots, sejujurnya, tidak termasuk salah satu yang ingin saya tonton di awalnya, sesuka apapun saya terhadap kucing. Padahal saya cukup menyukai Shrek, film animasi pertama yang mengenalkan saya pada tokoh si Puss; mungkin karena saya memang sedang bosan menonton animasi? Toh, karena satu dan lain hal, saya akhirnya nonton juga animasi tentang si kucing bersepatu bot itu :P

Puss in Boots bercerita tentang petualangan Puss sebagai seorang buronan jauh sebelum ia bertemu Shrek. Puss (Antonio Banderas) sejatinya adalah seorang pahlawan di kotanya terdahulu, namun karena pengkhianatan temannya, si telur Humpty Dumpty (Zach Galifianakis), dia lebih dikenal sebagai seorang buronan yang telah merampok habis bank utama kotanya. Siapa sangka, di tengah pelariannya, dia kembali bertemu dengan musuh bebuyutannya, Humpty, dengan perantara Kitty Softpaws (Salma Hayek). Humpty mengajak Puss untuk bekerja sama mencuri kacang ajaib dari pasangan perampok, Jack dan Jill. Dengan kacang ajaib itu, Humpty berniat ke negeri di atas awan dan mencuri telur emas untuk membayar kerugian di kota asal mereka akibat perampokan yang ia dalangi. Dengan tujuan mengembalikan nama baiknya dan juga memperoleh kembali kepercayaan ibu asuhnya, Puss pun setuju untuk menolong Humpty dan Kitty mencuri kacang ajaib dan mencari telur emas tersebut.

Rencana tinggal rencana, ketika Puss menyadari bahwa Humpty menjebaknya dengan rencana tersebut dan justru menjebloskan dia (lagi) di sel kotanya untuk kedua kalinya. Lalu bagaimanakah nasib Puss? Dapatkah dia keluar dari sel dan kemudian memperoleh nama baiknya kembali?

Seperti film animasi lain yang saya tonton, satu hal yang membuat saya suka dengan film ini adalah animasinya sendiri. Warna-warna yang digunakan cukup menarik dan menyenangkan, meski mungkin tidak sedinamis Tintin. Puss sendiri digambarkan dengan sangat lucu dan imut, sebagaimana karakter kucing-kucing lain di film ini. Sebagai pecinta kucing, melihat kucing bertebaran di layar bioskop jelas membuat saya tersenyum terus sepanjang film. Untuk plotnya sendiri, saya bisa katakan lumayan dan sedikit mengejutkan di akhirnya meski tidak membuat saya berpikir “wow!”. Ada saat di mana saya berpikir ada bagian yang hilang dari keseluruhan alur, dan itu sedikit banyak mengurangi penilaian saya. Sedangkan dari sisi karakter, saya bisa bilang tidak ada yang istimewa, bahkan karakter utama alias si Puss. Yang sedikit membuat saya tertarik adalah karakter Kitty Softpaws, namun itu pun hanya di akhir film. Humpty sama sekali tidak membuat saya tersentuh, padahal saya sering tertarik pada tokoh antagonis.

Secara keseluruhan, film ini cukup menarik untuk ditonton sebagai hiburan di kala penat, terutama bersama keluarga atau teman dekat. Not bad at all :)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 305 other followers